Kalau kamu tinggal di Jakarta, Museum adalah opsi menarik untuk dikunjungi. Baik di akhir pekan atau kapanpun saat membutuhkan asupan visual, pengetahuan, kreativitas, dan aktivitas. Begitupun bila kamu tinggal di luar Jakarta, ke museum adalah aktivitas wisata yang sungguh menarik. Terutama bila kamu bosan dengan keramaian pusat perbelanjaan yang selama ini ditawarkannya.
Sebagai Ibukota, Jakarta diuntungkan dengan mengoleksi museum-museum terbaik, termenraik, dan terlengkap di Indonesia. Beberapa di bawah ini adalah pilihan saya, dan mendapat predikat #WajibKunjung di Jakarta.
- Museum Gajah
Museum dengan nama resmi Museum Nasional Republik Indonesia atau disingkat Museum Nasional (bukan Monumen Nasional ya!) ini adalah salah satu museum tertua dan terlengkap di Asia! Berdiri sejak 1778 pada masa kolonial Belanda, museum ini punya sejarah panjang yang sama menariknya dengan koleksi musuem ini sendiri.
Koleksinya meliputi arkeologi, sejarah, etnografi, dan geografi, dengan berbagai primadona, termasuk di antaranya koleksi emas dan perhiasan yang ditempatkan pada lantai atas dengan keamanan ketat dan aturan tidak boleh mengambil gambar bagi pengunjung. Gedung lamanya bergaya Klassis Renaissance dan saat ini digunakan untuk menyimpan serta menampilkan aneka arca, patung, prasasti serta peninggalan lain era klasik.
Dalam gedung ini akan kalian temui koleksi primadona berupa patung batu Bhairawa setinggi lebih dari 4 meter berfigur seram dengan hiasan tengkorak. Arca ini ditemukan di Padang Roco, Sumatera Barat dan merupakan peninggalan kepercayaan Tantrayana yang waktu itu banyak dianut kerajaan di Sumatra dan memang dekat dengan ritual pengorbanan. Selain itu di taman tengah akan kalian temukan Arca Nandi besar yang menurut saya paling indah dari semua Nandi yang ditemukan di Indonesia.
Walaupun dibilang paling lengkap, namun sayang displai koleksinya terkesan kurang rapi dan keterangannya tampak tidak lengkap. Arca-arca dan prasasti berjejalan sehingga susah untuk dikagumi keindahannya secara utuh.
Museum ini termasuk yang paling mudah diakses, bisa menggunakan angkutan umum, seperti bus TransJakarta yang memiliki halte tepat di depan museum ini. Museum juga menyelenggarakan aneka workshop dan pelatihan, seperti menari, tiap akhir pekan.

Patung gajah, pemberian Raja Chulalangkorn dari Thailand 
Hiasan kepala kapal berbentuk naga, berasal dari Kalimantan 
Arca Bhairawa 
Arca Nandi besar di taman tengah 
Gedung Arca 
Gedung Arca
2. Museum Fatahillah
Terletak di kawasan Kota Tua, museum ini memiliki nama resmi Museum Sejarah Jakarta. Yang menarik dari museum ini adlah gedung dan sejarahnya. Koleksinya sendiri menurut saya cukup biasa. Tidak terlalu menjelaskan bagaimana sejarah Jakarta dengan baik dan komprehensif.
Gedung yang ditempati dibangun pada 1707 dan awalnya adalah Balaikota Batavia serta Kantor Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Memiliki fasad yang mirip dengan Paleis Op de Dam di Belanda, komplek ini dilengkapi dengan lapangan batu, air mancur umum yang dulunya sumber air bersih warga, dan dikelilingi gedung-gedung lama perkantoran, pengadilan, kantor pos, dan gereja gaya Belanda.
Temukan ruang bawah tanah yang sempit tempat mengurung narapidana di tingkat bnawah bagian belakang, aneka furnitur peninggalan masa kolonial Belanda, hingga lukisan raksasa bertema penyerangan Sultan Agung ke Batavia, serta primadona barunya berupa mural yang bercerita tentang kehidupan sosial Batavia masa lampau.

Tampak Museum Wayang yang dulunya Hollandsche Kerk 
Sepeda warna warni penarik turis atau pengganggu pandangan? 
Kantor Pos Besar 
Dulunya Stadhuis Batavia dan Governor Kantoor 
Mural yang menggambarkan gaya hidup Batavia
3. Museum Taman Prasasti
Berbeda dengan museum-museum lainnya yang berlokasi dalam gedung, Museum Taman Prasasti adalah sebuah taman terbuka, atau lebih tepatnya sebuah komplek pekuburan terbuka. Iya betul, kamu tidak salah baca, ini pekuburan alias makam dengan deretan nisan.
Sebelum menjadi museum, komplek ini bernama Kebon Jahe Kober, sebuah kherkof atau pemakaman Belanda yang didirikan tahun 1795 untuk menggantikan komplek lama di Hollandsche Kerk (samping Museum Fatahillah, sekarang Museum Wayang) yang telah penuh.
Di museum ini kita bisa melihat nisan-nisan khas gaya belanda, lengkap dengan bentuk yang unik, dekorasi patung malaikat dengan ekspresi sahdu, simbol-simbol mitologi kuno eropa, dan bahkan sebuah makam bergaya gothic. Jangan lupa kunjungi “makam” Soe Hok Gie, aktivis muda yang aktif menentang rezim Soeharto di era 60-an. Nisan berhias malaikat bertulis “Soe Hok Gie” ini sebenarnya bukan makam, tapi hanya penanda, karena tubuhnya kemudian diperabukan dan abunya ditebar di Mandalawangi.

Nisan bergaya gothic Mayor Jenderal J.J. Perie 

Ouroboros melingkupi jam pasir bersayap
4. Museum Wayang
Sebetulnya museum ini memiliki banyak potensi dengan koleksi aneka wayang dan boneka dari berbagai daerah, kebudayaan, dan lintas jaman. Namun sayang sekali displai terkesan kotor dan tidak disertai dengan penjelasan serta informasi yang menarik.
Kita dapat menjumpai aneka gaya wayang, mulai dari yang dipengaruhi oleh epos Mahabaratha dan Ramayana dari kebudayaan India, wayang golek, wayang suket (rumput), wayang beber yang menggunakan lembaran-lembaran gambar bercerita, hingga wayang wahyu yang menyadur cerita Isa Almasih,
Museum ini menempati bekas Hollandsche Kerk, gereja Belanda yang bersebelahan dengan Stadhuis Batavia (sekarang Museum Fatahillah). Area gereja ini juga berisi komplek pemakaman, di dalam taman tengahnya, kita masih bisa menjumpai nisan kubur gaya Belanda dari para Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang dikuburkan di sini, di antaranya Jan Pieter Zoon Coen dan Baron van Imhoff.

Jatayu 
Terdapat setidaknya 18 nisan Gubernur Jenderal di sini 

Nisan JP Coen 
Wayang Wahyu
5. Museum Bahari dan Menara Syahbandar
Ingat ya, Museum Bahari berbrda dengan Museum Maritim. Selain lokasi dan pengelolanya yang berbeda, isi koleksinya pun berbeda. Museum Bahari berisi koleksi mengenai perdagangan maritim mulai dari jaman kolonial. Memamerkan beberapa jenis kapal, mulai dari yang digunakan Belanda dan Portugis, hingga perahu-perahu tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, salah satunya Papua.
Bangunan yang dipakai museum ini dulunya adalah gudang VOC, awalnya digunakan untuk menampung aneka komoditas perdagangan Belanda di Nusantara, seperti rempah-rempah, kopra, kopi dan sejenisnya. Bangunannya sendiri sebagian besar masih asli dengan lantai batu dan pintu-pintu serta jendela-jendela kayu lengkap dengan besi tempa yang mengiasinya. Di dalam museum kita juga bisa mengetahui sejarah pelayaran, bandar-bandar kuno dan komoditas-komoditasnya, hingga budaya maritim yang memang menjadi jatidiri bangsa ini.
Tak jauh dari lokasi museum terdapat Menara Syahbandar. Menara dengan atap warna merah ini dulunya digunakan untuk mengawasi kapal yang keluar masuk Batavia serta memungut bea masuk. Di bangun di bekas reruntuhan benteng kuno Batavia dan sempat dijadikan penanda titik nol kilometer Jakarta. Pengunjung bisa naik hingga ke atap, dimana kita bisa memandangi muara Ciliwung dan Laut Jawa di kejauhan serta merasakan goyangan bila ada truk yang melintas di jalan raya pelabuhan. Konstruksi yang tua dan tanah yang tidak stabil membuat menara ini tak hanya bergoyang, namun juga miring.

Menara Syahbandar 

Peta bandar Batavia 


Perahu kayu dari Papua
6. Museum Bank Indonesia
Museum ini juga terletak di kawasan Kota Tua, dekat dengan Stasiun Jakarta Kota (Beos). Gedungnya cantik dengan fasad berwarna putih dan gaya Neo-Klasik. Dulunya kawasan ini adalah sebuah rumah sakit, dan lebih jauh ke belakang, pernah dijadikan sebagai hunian sementara tentara Sultan Agung saat menggempur Batavia.
Dalam museum kita bisa melihat koleksi uang dan koin dari berbagai masa dan negara. Sistem keuangan dan perbankan Indonesia juga dijelaskan dengan baik di sini, termasuk diorama prototipe bank dari jaman kolonial yang unik. Dalam sebuah bilik kita diajak mempelajari dan mengingat mengenai krisis moneter yang menerjang Indonesia di tahun 1997-1998 yang berujung pada konflik horisontal dan reformasi.
Berkelilinglah menikmati bangunannya yang indah, dengan taman di tengah dan aneka kaca patri atau mozaik yang cantik. Ubinnya pun menarik hati dengan warna-warna pastelnya.

Kaca-kaca patri yang indah menghiasi jendela-jendela 


Gaya Neo Klasik 
Halaman tengah yang menarik
