Instagram, bagi saya dan mungkin juga bagi anda adalah keseharian. Dan saya yakin, Instagram bahkan menggeser posisi frekuensi makan yang tiga kali sehari dalam rutinitas kita masing-masing. Tak percaya? Cobalah menengok apa kata analitik Instagram masing-masing.
Lalu pertanyaannya adalah “Apa tujuan kita berinstagram?”
Jawabannya mungkin bisa berbeda-beda dan bermacam-macam bagi setiap kita. Sebagian mungkin bertujuan untuk bersosialisasi, berkomunikasi dengan teman dan saudara. Sebagian lain membuat Instagram sebagai etalase portfolio kerja, Tidak saja bagi fotografer atau videografer, tapi juga bagi para bake artist, florist, arsitek, desainer, ilustrator, atau traveler.
Bagi sebagian orang Instagram bukan cuma tentang mengisi waktu dan bersenang-senang. Tapi Instagram adalah ladang pekerjaan, tempat mencari uang. Baik para social media planner, administrator, content creator, desainer grafis, bahkan influencer dan juga buzzer. Ya, mereka yang anda bayar untuk memasukkan produk dalam tiap unggahannya. Seraya berharap umatnya berbondong-bondong mengikuti apa yang dia lakukan, walaupun sudah tau bahwa semua hanya sebatas setting-an belaka.
Tapi bagi saya, Instagram adalah sebuah mesin pengarsip. Sebuah kotak penyimpan memori dalam wujud visual. Dengan daya simpan (hampir) tak berbatas dan kemudahan membawanya dalam genggaman ke manapun di manapun, Instagram jauh lebih sophisticated dari sekadar brankas di bank!
Hari-hari terakhir desember seperti ini, maka memori anda akan dipaksa diusik. Sebuah ritual abad ke-21 bagi para generasi internet memungkinkan kita untuk memilih momen terbaik dalam formula banyaknya loves untuk dikompilasi menjadi apa yang kita sebut #2019BestNine atau sembilan foto terbaik tahun (2019) setiap tahunnya.
Bagaikan pohon natal yang dipasang tiap Desember, #2019BestNine juga turut mempercantik Desember kita. Sebagian kemudian terkenang memori selama setahun yang manis (atau justru pahit). Sebagian menggunakannya untuk mensyukuri hidup dan memamerkan pencapaian, sebagaian hanya tak ingin ketinggalan momen sekali setahun ini. Sementara para silent user, bolak-balik bersyukur karena telah mengunggah lebih dari 9 foto unggahan tahun ini di sela-sela kehidupan stalking dan carut-marut berkelindannya alter account yang dimiliki.
Begitulah, saya memaknai Instagram sebagai sebuah memory box. Sebuah tempat untuk menyimpan memori dalam imaji, tak peduli manis ataupun pahit. Sesuatu yang mudah dilihat kembali, dikenang-kenang saat kita dalam keadaan lemah dan nelangsa, atau sebatas kangen dengan yang tersayang. Instagram adalah kenangan.
Ijinkan saya dalam ritual akhir Desember ini untuk berbagi #2019BestNine saya sebagai berikut:

Penampakan #2019bestnine saya. Isinya semacam kompilasi nano-nano kehidupan selama 2019.
1. Merayakan resmi beroperasinya MRT Jakarta @mrtjkt dengan ikut trial ride di Maret 2019. Senang dan bangga pernah jd bagian dri kampanye dan komunikasi #UbahJakarta
2. Foto ulang tahun ke-33 saya di sebuah kedai kopi cum studio dan kelas fotografi di bilangan Jakarta Selatan.
3. Video interview saat mengisi @happinessfestival.id yang direkam oleh teman2 @toleransi.id di depan sebuah panel surya.
4. Ikut turun ke jalan menyuarakan kegelisahan akan krisis iklim bersama ribuan orang tua-muda saat #ClimateStrike @jedaiklim Kami mengadakan marching dari depan Balaikota hingga taman aspirasi di depan Monas dan Istana Negara.
5. Segelas kopi manual brew yang menjadi pilihan saya di sebuah kedai kopi di Jepara @enjangcoffee
6. Ikan tongkol panggang yang baru diangkat dr proses pengasapan di desa nelayan di #Jepara Favorit saya dimasak mangut pedas atau disambal terasi jeruk!
7. Lukisan saya menggunakan akrilik di atas tote bag kanvas saat acara Cuana dalah Koentji bersama @campaign_id dan @coaction.id untuk kampanye #EnergiMuda dan dimentori langsung oleh @gabrieldiasagatha
8. Foto almarhum Bapak berpose dengan Bull atau sapi jantan yang dikoleksi semennya untuk proses kawin suntik yang saya unggah untuk mengenang wafatnya Bapak..
9. Foto favorit #OOTD saya dengan kemeja motif warna-wani nan artsy yang kata orang-orang jadi signature style saya lengkap dengan sneakers dan pose kebanggaan.
Sama seperti kompilasi fotonya yang campur-aduk, begitupun 2019 bagi saya. Semua penuh syukur dan pembelajaran. ..
Selamat datang 2020!
Sampai jumpa dan mari saling menyapa saat berpapasan di timeline Instagram kita masing-masing!
