De Tjolomadoe: Sisa Manisnya Kejayaan Gula Nusantara

Bila anda berencana untuk berkunjung ke kota Solo dan sekitarnya, saya sangat menyarankan untuk mampir ke De Tjolomadoe. Terlebih bila kita menempuh jalur udara, bekas pabrik gula yang kini disulap jadi museum dan atraksi wisata ini hanya 10 menit dari Bandara Internasional Adi Soemarmo.

Letak tepat pabrik gula ini sebenarnya secara administratif berada di Kabupaten Karanganyar, dan bandara Adi Soemarmo justru malah berada di Kabupaten Boyolali. Semuanya berada di lintasan perbatasan dengan Solo atau Kota Surakarta sebagai pusat keramaiannya. Maka pantaslah bila De Tjolomadoe masuk dalam daftar kunjungan anda saat menjelajah Solo.

Sejarah Pabrik Gula Colomadu

Pabrik gula ini didirikan sekira tahun 1861 oleh Mangkunegaran IV yang membuktikan tak hanya kekuasaan namun juga kekayaan sang raja Jawa tersebut. Pabrik gula ini juga bukti bahwa sang raja juga cukup maju dengan menerapkan berbagai teknologi terbaik Eropa dan bekerja sama dengan beberpa pengusaha Eropa waktu itu. Selanjutnya pada tahun 1928 pabrik mengalami perluasan dan perombakan struktur yang masif.

Pada masa kejayaannya, pabrik gula ini tak hanya mencukupi kebutuhan gula di Jawa, bahkan hingga diekspor ke berbagai benua di seluruh dunia. Tercatat negara-negara Eropa seperti Belanda, Inggris, Perancis, Turki, negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara seperti Mesir, Asia seperti Singapura, China, Jepang, dan India, dan juga Australia, bahkan hingga ke Amerika Serikat dan Kanada .

Pabrik ini memberi keuntungan luar biasa bagi Mangkunegara, Kota Surakarta, dan warganya selama berpuluh-puluh tahun hingga akhirnya harus tunduk menyerah pada krisis dunia yang membuat nilai ekonomi runtuh. Pabrik lalu beroperasi dengan sekala kecil sampai akhirnya berhenti sama sekai bahkan terabaikan hingga sekitar beberapa tahun lalu. Sekarang Perusahaan Konsorsium BUMN merestorasi pabrik menjadi atraksi wisata dan museum untuk menarik wisatawan dan menyewakan ruang serbaguna dengan kapasitas hingga 3000 orang!

Mesin-mesin Tua Raksasa Buatan Jerman

Setelah membeli tiket seharga Rp. 25.000 kita akan memasuki gedung utama yang gagah berdiri. Ruang-ruang dalam pabrik gula dibiarkan hampir sama dengan kondisi masa lalunya. Terdapat Stasiun Gilingan yang berisi mesin-mesin dari besi baja raksasa buatan Jerman yang dulu diimpor ke Hindia Belanda. Roda-roda raksasa bergerigi setinggi atap yang sebagian dibiarkan berkarat seakan membawa kita menyelami masa lalu saat pabrik ini menghidupi ribuan orang dan ratusan pegawai hilir mudik di dalamnya. Bisa kita bayangkan asap mengepul dalam mesin-mesin yang digerakkan untuk menggiling berton-ton batang tebu yang dipanen dari seantero wilayah kekuasaan Mangkunegaran.

Dalam lorong gelap beralur, kita diajak mendalami sejarah Pabrik Gula Colomadu dari berdiri hingga masa mari surinya. Serangkaian infografis dalam warna putih dan merah tersaji cukup informatif. Lengkap dengan sederet data statistik yang berisi keterangan jumlah produksi, keuntungan pabrik, hingga kronik tahun per tahun.

Terdapat juga cetak biru desain pabrik gula. Menurut informasi, tim yang melakukan restorasi sampai harus memburunya hingga ke Leiden, Belanda untuk mendapatkan cetak biru yang sudah tidak begitu utuh akibat usia. Terdapat juga maket yang menunjukkan besar dan megahnya komplek pabrik ini dahulu kala. Aneka memorabilia, mulai dari buku-buku yang diterbitkan, perlengkapan penyuluhan untuk meningkatkan produksi tebu, hingga alat-alat turnamen olah raga. Tak ketinggalan sebuah bilik berisi karya seni oleh seniman lokal Yogyakarta, Tempa, turut menghiasi.

Di Stasiun Ketelan dan Stasiun Penguapan, terdapat set mesin-mesin uap raksasasa lengkap dengan tungku-tungku baja yang menghidupi pabrik ini. Uap panas akan menggerakkan roda penggilingan yang memeras berton-ton tebu untuk diambil sarinya. Tegel berwarna kuning dan hitam, serta struktur batu bata tua dipertahankan untuk mengawetkan kesan kuno terjaga.

Bersantap bersama Mesin-mesin Pabrik

Setelah puas berkeliling dan mendalami sejarah pabrik gula ini. Mampirlah ke Besali Cafe. Area ini adalah bagian pabrik yang diubah menjadi cafe dan restoran untuk pengunjung. Di pintu masuknya terdapat pohon tua yang merambat di dinding, menambah kesan kuno nan artistik.

Saya memesan Nasi Liwet, makanan khas Solo yang gurih. Beras putih yang diliwet dengan santan, disajikan dengan sayur labu, telur rebus, dan suwiran ayam. Mendoan dan Es Teh ikut saya pesan untuk menemani makan siang setelah puas berkeliling. Selain cafe dan restoran, dalam area De Tjolomadoe juga terdapat kedai kopi dan toko seni serta toko merchandise dan oleh-oleh.

Beranjak ke pintu ke luar sisi lainnya. Bangunan pabrik tampak berdiri megah, dengan cerobong tinggi yang masih asli. Pada fasadnya tertulis “Anno 1928”, tahun di mana pabrik ini direnovasi dan diperbesar. Teras-teras dengan pilar-pilar melengkung tampak artistik disertai dengan bangku-bangku panjang untuk duduk-duduk santai.

Sementara dari area luar, kita daat melihat bagian yang menarik untuk tempat berfoto. Fasad yang terbuat dari kaca membuat kesan modern dan kuno menyatu sekaligus. Di taman menuju lapangan parkir, pengelola menanam rumpun tebu dekat dengan bagian yang dulunya adalah stasiun tempat tebu hasil panenan kebun masuk ke pabrik.

Mampirlah ke toko souvenir sebelum pulang untuk membeli merchandise berupa kaos, topi dan tote bag dengan desain De Tjolomadoe yang ikonik, Juga ada coklat lokal serta kudapan tradisional untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Leave a comment