Menjelajah Potensi Wisata Lokal

Traveling sepertinya sudah menjadi kegiatan wajib untuk kita yang hidup di tahun 2020 ini. Tidak saja menjadi kebutuhan, traveling juga seperti salah satu bentuk kompensasi eksistensi manusia. Tren traveling ke luar negeri marak lima tahun terakhir. setelah backpacking ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand seakan menjadi sebuah kewajiban, sepanjang 2018 -2019 penuh dengan cerita orang ke Jepang! Iya, negara di Asia Timur ini tampaknya menjadi tujuan semua umat

Lalu bagaimana dengan tren traveling ke dalam negeri sendiri? Pasti semua orang tau betapa antusiasnya orang-orang dengan Raja Ampat atau Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Bali yang bertahun-tahun menjadi tujuan seakan menjadi kalah keren dari destinasi di atas.

Tapi ada satu tren lagi yang menurut saya berkembang, walaupun tidak semasif dua hal yang saya uraikan di atas. Tren untuk menikmati wisata lokal sejarah. Ibarat kata, ini adalah sebuah irisan antara kegiatan traveling dan menggali identitas dan sejarah yang 5 tahun terakhir ini marak.

Komunitas-komunitas lokal muncul dan getol menggali akar budaya dan sejarah berbasis kota masing-masing. Para pejalan juga makin mendapatkan informasi melalui sosial media dengan mudah dan ekstensif. Kota-kota yang selama ini tak masuk radar wisata para pejalan akhirnya muncul ke permukaan.

Lasem, sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah adalah salah satunya. Pecinan kecil ini memukau para pejalan dengan ratisan bangunan dan budayanya yang lestari. seperti tagline yang diusung, pejalan benar-benar kesengsem Lasem. Selain itu Parakan, Temanggung, dengan pasar komunitasnya yang kesohor juga mendapat panggung yang terang sepanjang 2019.

Menariknya, gelombang kebangkitan budaya dan sejarah ini menjalar hingga ke berbagai kota dan kabupaten, baik di Jawa maupun luar Jawa. Berbagai macam komunitas, yang hampir semuanya diinisiasi oleh anak muda lokal turut tumbuh subur. Nama-nama seperti Majapahit Lelono di Trowulan, Mojokerto dan Pasak Kadhiri, dua-duanya di Jawa Timur seakan ingin membangkitkan kejayaan masa lalu pusat pemerintahan Jawa era klasik ini.

Tren yang terjadi belakangan ini membuat saya jadi berpikir, Indonesia memang luar biasa kaya dan indah, dan ini bukan slogan saja. Sayangnya, terlalu banyak orang pesimis dengan negerinya sendiri, sehingga melihat Indonesia seperti tak sebanding dengan Jepang atau Eropa. Padahal sama-sama kaya akan budaya dan sejarah, belum lagi bila kita menakar keindahan alamnya. Tentu saja tak salah untuk berlibur ke Jepang atau negara lain, tetapi menjelajahi negeri sendiri juga sangat menarik.

Melihat gejala ini sekarang, setiap berkunjung ke sebuah kota baik untuk urusan acara keluarga atau pekerjaan, saya selalu berusaha bertanya ke penduduk asli atau googling apa yang bisa dikunjungi di sana. Entah bangunan tua, museumnya, taman atau bentang alamnya, dan yang paling menarik; kuliner lokalnya!

Lucunya, hal-hal yang menarik dari sebuah kota umumnya (setidaknya dari yang saya alami) tidak diketahui oleh anak muda penduduk aslinya. Orang yang berasal dari daerah atau anak muda yang merantau ke luar daerah untuk kuliah atau bekerja justru yang menggali hal tersebut. Rasa kangen dan keinginan untuk terhubung dengan kota kelahiran tampaknya memotivasi para perantau muda ini untuk menggali lebih dalam, Dengan kekuatan sosial media, mereka pun dengan mudah mewartakan pada dunia.

Selain sebagai penikmat, kita juga bisa berkontribusi dalam menggali dan menjelajahi kota kita masing-masing. Mengulik kuliner tradisionalnya yang unik dan lezat. Lengkap dengan informasi mengenai sejarah dan bumbu. Atau mengidentifikasi bangunan bersejarah di kota kita. Baik museum, tugu peringatan, atau sekadar rumah lama yang penuh cerita.

Saya yang kebetulan lahir dan besar di Jepara akan menceritakan mengenai Jepara dalam beberpa tulisan mendatang. Seraya berharap, anda juga menceritakan kota masing-masing yang akan menaruk saya untuk menjelajah!

Leave a comment