LASEM: Pabrik Tegel Kuno “LZ” Lie Thiam Kwie #2

Salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat ke Lasem adalah rumah kuno cantik Lie Thiam Kwie dan pabrik tegel kunonya dengan merk LZ. Letaknya mudah dijangkau, di tepi jalan dan tak seberapa jauh dari Masjid Agung Lasem. Selain bisa mengagumi kecantikan rumah bergaya Indisch-Empire ini, kita juga bisa melihat sisa kejayaan pabrik tegel kuno dan bahkan mengamati proses pembuatan tegelnya.

Merk LZ, menurut guide saya merupakan kependekan dari Leipzig, sebuah kota di Jerman. Konon katanya, sang pemilik pabrik membeli mesin dan alat cetak tegel dari kota tersebut di jaman kolonial Belanda. Lie Thiam Kwie sendiri adalah nama pendirinya. Selain membuat tegel aneka motif, usahanya juga termasuk pembuatan teraso dan aneka dekorasi rumah serta taman.

Kini rumah besar ini dijaga oleh para keturunan pegawai pabrik tegel yang memang masih tinggal dalam komplek tersebut. Namun sesekali keturunan pemilik rumah ini mampir untuk tinggal sejenak di sini. Saat itulah, kata guide saya, pengunjung bahkan diijinkan masuk untuk melihat-lihat bagian dalam rumah. Sayangnya saat ke sana rumah kosong. Namun begitu, keindahan teras belakang, taman dan komplek pabriknya tetap menarik untuk dinikmati.

Dari depan, rumah ini tampak kokoh dengan pilar-pilar gaya Eropa yang berdiri tegak, di sebelahnya terdapat bangunan pendamping yang kini disewakan untuk praktik seorang dokter. Di antaranya terdapat jalan masuk menuju kompek yang sungguh luas. Dari jalan itu kita bisa melihat jendela-jendela tinggi dengan kaca patri indah berpagar teralis, Lebih lanjut masuk ke dalam, kita akan dibuat terpesona dengan halaman belakang yang luas, dengan pohon-pohon besar dan sebuah teras cantik.

Kami masuk ke teras tersebut, di mana tergantung aneka foto kuno milik keluarga empunya rumah. Tampak foto Lie Thiam Kwie dan keluarga besarnya. Aneka perabot dan furnitur kuno masih terjaga dengan baik. Kursi-meja tamu tampak menghiasi teras. Guide saya pun menganjurkan kami berfoto. Saya bisa membayangkan kehidupan keluarga ini dulu, menjamu teman dan saudara di halaman belakang yang rindang dan mewah.

Tegelnya cantik! Pun atap dan langit-langitnya yang penuh hiasan kayu. Di kanan kiri ambang masuk teras, saya dapati hiasan porselen bergaya Eropa yang indah dan halus. Beberapa bergaya gerejawi, Setelah puas mengambil foto dari berbagai sudut, kami mengisi buku tamu yang diletakkan di meja paling ujung. Selanjutnya kami menuju taman.

Pada taman belakang ini, tampak dekorasi dari teraso yang dulu merupakan hasil buatan dan komoditas mereka. Taman ditata cantk dengan gaya eropa, lengkap dengan aneka kursi taman, air mancur bersegi lima, dan pot-pot besar nan cantik. Sayang bagian belakang ini banyak ditumbuhi semak yang cukup tinggi.

Puas mengagumi taman yang dinaungi pohon mangga raksasa, kami menuju ke area pabrik tegel. Tampak papan nama tua penanda bertuliskan “Tegelfabriek ‘Lasem’ Lie Thiam Kwie”. Di dekatnya terdapat pintu rendah, kami masuk ke sana dan tibalah kami di bagian inti pabrik. Dua pegawai tampak bekerja, satu sedang mengusung tegel, sementara satunya konsentrasi mencetak tegel.

Ruangan pabrik sangat kuno, dengan atap genting tanah liat yang berlubang di sana-sini, membiarkan sinar matahari masuk sehingga justru tampak estetik. Di bagian lantainya, tumpukan dan gundukan aneka bahan dan peralatan lama tumpang tindih dengan hiasan sarang laba-laba. Sementara di dinding, sebuah papan absen kuno lengkap dengan nama pekerja tampak tergantung sebagai bukti kejayaannya di masa lalu.

Guide saya mengajak saya mendekat, ke salah satu pekerja, Dengan menganggukkan kepala tanpa berbicara sedikitpun, pekerja itu menaruh adonan dalam mesin, menuang bahan pewarna, kemudian memampatkan dan menekannya dalam mesin pres, lalu seketika tegel jadi! Selanjutnya pegawai lain datang saat tumpukan tegel baru sudah cukup tinggi. Menggotongnya ke sebuah bak penampungan berisi air. Iya, tegel-tegel ini tidak dibakar seperti halnya perkakas terakota, tapi direndam dalam bak air berhari-hari lamanya agar mampat dan padat.

Kami melanjutkan ke arah luar, tampak aneka bak air dan tumpukan tegel, Serta yang paling menarik aneka katalog tegel buatan mereka aneka warna dan ukuran. Sayang, tegel-tegel tercantik dengan desain bunga tak lagi bisa diproduksi, alatnya telah rusak dimakan usia, Di halaman terluar, ada sebuah pohon besar tua, dulu di bawahnya pegawai menyusun tegel dalam kendaraan angkut untuk membawanya ke pemesan.

Kami lanjut berjalan mengitari sisi belakang. Tegel dan rumah kuno ternyata bersebelahan dengan sebuah pesantren. Bersisian tembok, kami dapat melihat lantai 2 pesantren tersebut dan mengintip melalui jendelanya. Tampak aneka perlengkapan tergantung dan sarung tersampir. Ternyata area pabrik masih luas, walaupun sekarang ini sebagian besar ditumbuhi semak dan pohon.

Berlanjut kembali ke depan, kini kami menuju area tempat tinggal para pekerja, Ada sebuah sumur kuno di sana. Di dekatnya area dapur, walaupun kini berganti kompor yang lebih modern, guci besar dan tungku kuno masih tersisa. Banyak barak tempat pekerja tidur.

Area samping bagunan induk yang tampaknya dulu dapur dan ruang makan, kini ditinggali keturunan pegawai pabrik yang juga telah tua. Ada yang unik, di ruang makan teras tersebut, satu set meja dan kursi makan ditempatkan dalam kotak berkawat kasa. Sementara lemari lama tampak memajang aneka perkakas rumah tangga jaman dulu dihiasi foto-foto dan lukisan lama.

Sekali lagi saya mengagumi bagian teras belakang yang indah tersebut. Sambil melihati ibu-ibu tua yang sedang mengobrol entah soal apa. Terbayang bagaimana penghuni komplek ini di masa lalu. Pegawai dan tamu lalu lalang.

Bila anda berniat untuk mengunjungi Lasem, rumah kuno dan pabrik tegel ini wajib masuk dalam daftar kunjung anda. Rasakan sensasi masuk ke mesin waktu dengan tak terburu-buru menikmatinya.

Leave a comment