Story of My Life: Gempa Jogja dan Jateng 2006 #1

Setelah melakukan flash back terhadap apa saja yang saya lalui selama lebih dari tiga puluh tiga tahun ini, saya merasa ada beberapa milestone dalam hidup yang membuat saya terbentuk menjadi seperti sekarang ini. Salah satu kejadian yang paling membekas dan memberi banyak pelajaran adalah peristiwa bencana gempa bumi yang meluluhlantakkan Jogja dan Jateng pada 2006. Gempa 5,9 SR ini memberi efek yang luar biasa, tidak hanya pada daerah yang paling terdampak, Daerah Istimewa Yogyakarta (khususnya Kabupaten Bantul) dan Jawa Tengah bagian selatan (khususnya Klaten), tapi juga pada orang-orang yang tinggal di sana, termasuk saya.

Saya masih mahasiswa semester empat di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta saat gempa ini terjadi. Pagi itu saya bangun seperti biasa di kamar kos sekitar pukul 5 pagi. Sungguh sebuah pagi yang biasa saja awalnya. Saya pun melakukan melakukan ritual pagi ke kamar mandi, seperti biasa.

Tahun itu sebenarnya cukup berat bagi kami. Mahasiswa yang berkampus di bagian utara seperti UGM, UII, UNY, Sanata Dharma dan UPN Veteran selalu dibayangi rasa was-was karena simbah watuk. Simbah adalah sebutan hormat warga Jogja terhadap Gunung Merapi. Dan saat itu, Merapi sedang dalam tahap meletus. Letusannya yang freatik membuat kami bahkan bisa mengamati guguran lavanya setiap lewat tengah malam yang jernih dari jembatan Gondolayu. Setiap hari, selain orang tua yang menelepon dan menanyakan kabar, yang menjadi perbincangan dan keresahan adalah; Kapan Merapi akan meletus besar?”

Kembali ke kamar untuk tidur-tidur ayam, sambil menunggu waktu untuk mandi adalah cara saya menikmati waktu pagi itu. Sebelum nantinya berencana berangkat ke kampus sekitar pukul 9 pagi. Hingga kemudian, sekonyong-konyong, tanpa aba-aba, kasur saya bergoyang keras! Goncangan itu berasa vertikal dan berlangsung lama. Bagaikan dikocok-kocok ke atas dan ke bawah berulang kali. Teriakan “Gempa! Gempa!”Dari penghuni kost lain mengkonfirmasi pikiran saya yang masih kaget. Panik karena belum pernah merasakan gempa sekeras ini, menjadi makin panik karena teman-teman kost saya berteriak-teriak agar kami semua menyelamatkan diri dengan ke luar kamar dan menuju taman tengah yang terbuka.

Tapi hal yang saya tidak antisipasi adalah, betapa susahnya memuntir kunci kamar saat bumi bergoncang, Beberapa kali tangan saya terlepas dari pegangan pintu. Text book kuliah setebal Alquran mulai berjatuhan dari rak. Botol-botol cologne murahan saya mulai berguguran dari lokasinya bawah cermin. Gempa itu, yang di kemudian hari saya ketahui berlangsung lebih dari 50 detik, memang sungguh hebat.

Beruntung saya bisa membuka kamar dan berlari ke taman. Teman saya sebagian besar berkumpul dengan muka cemas dan baju seadanya. Sebagian cuma mengenakan boxer, satu orang hanya melilitkan handuk di pinggang dengan buih shampo masih nampak di rambutnya. Kami semua selamat!

Setelah agak tenang, seorang teman menyeletuk: “Merapi!” Lalu kami berlarian ke lantai dua yang memiliki balkon kecil menghadap ke utara. Saya ingat agak berawan kala itu, tapi Merapi tampak baik-baik saja, asap putih kecil masih menyembur tenang seperti kemarin dan hari sebelumnya. Sebuah perasaan lega muncul. Sejenak berikutnya kami sudah keliling kost dan mendapati beberapa genting jatuh, asbes langit-lagit runtuh, bahkan ada yang bolong. Kamar kami aman, hanya buku dan barang beberapa berjatuhan.

Namun perasaan aman itu hanya berlangsung sejenak. Saat menyadari bahwa kemudian sinyal telpon perlahan hilang. Telepon genggap saya langsung tidak berfungsi, sedang provider lain yang digunakan teman bebrapa masih ada yang bisa digunakan untuk menerima telepon dari teman dan saudara. Saat itu nternet dan smartphone belum umum dipakai seperti sekarang, kami lebih sering berkirim SMS dan menelepon ketimbang berkirim DM (pesan pribadi) Instagram atau menelepon gratis dengan WA. Lebih parah lagi, listrik kemudian padam. Kami tak bisa menyalakan TV, kami tak tahu apa yang sebenarnya terjadi selain ada gempa kencang dan kami selamat dan tampaknya Merapi baik-baik saja walaupun kami tak yakin sepenuhnya.

Kami masih duduk-duduk di teras pada bangku bambu panjang yang menghadap taman sambil berjaga-jaga bila gempa susulan kembali terjadi. Sejurus kemudian, teman saya ingin melanjjutkan mandi dan meminta kami menjaga kamar mandi dr jauh krn dia tak mau menutup kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Disusul yang lain, kami mandi bergantian dengan pintu terbuka, dengan maksud agar saat gempa susulan tiba-tiba terjadi kami bisa langsung lari keluar.

Akhir Mei bagi saya yang kuliah di UGM adalah saat yang sibuk. Periode tersebut adalah waktunya minggu tenang, yang artinya berburu melengkapi materi untuk ujian yang akan dilangsungkan minggu berikutnya. Lebih sibuk lagi karena saya yang menjabat di BEM juga sedang dalam proses rangkaian LPJ (Laporan Pertanggungjawaban).

Hari itu sabtu, 27 mei 2006, seharusnya adalah jadwal rapat BEM membahas sidang laporan pertanggungjawaban. AKhirnya saya memutuskan ke kampus mengendarai motor. Dari kost di Jalan Kaliurang Km.5, saya mampir membeli nasi gudeg di pinggir jalan untuk sarapan. Saat mengantri, para pembeli saling berbagi kabar dan informasi. Sebagian bilang rumahnya retak, sebagian bilang gentingnya melorot, sebagian bilang saudaranya terpaksa ke puskesmas karena kepalanya tertimpa cermin kamar. Saat itulah saya mulai menyadari gempa ini serius.

Menuju kampus, saya melewati Pom Bensin yang ramai, terlalu ramai bahkan. Motor dan mobil berjejalan dan sebagian mengklakson dengan nyaring. Tapi saya tak anggap hal yang saya lihat serius. Saya cuma membatin, untung bensin dalam tangki motor Supra 110cc saya masih penuh karena baru disi semalam.

Di kampus, keadaan lebih parah dari yang saya duga. Atap parkiran motor lepas. Gedung laboratorium di lantai 3 kanopinya miring dan di sebelahnya retakan besar pada dinding jelas terlihat dari bawah. Menuju pendopo, saya dapati plafon rusak dan berjatuhan, genting-genting tampak di mana-mana sepanjang jalanan paving tepi gedung. Untungnya hari itu Sabtu, tak banyak mahasiswa yang beraktivitas.

Kami berkumpul hanya untuk menyepakati rapat ditunda. Kurang dari 10 orang yang hadir dari seharusnya 30 orang. Sebelum sinyal telepon menghilang seorang teman sempat mengirim SMS pada salah seorang pengurus BEM dan mengabarkan rumahnya runtuh. Kami yang di utara mulai makin khawatir dan sadar keadaan tidak baik-baik saja.

Pengurus kemudian mengusulkan untuk menengok teman yang berkirim SMS tadi di rumahnya yang berlokasi di Bantul. Delapan puluh ribu rupiah terkumpul untuk membeli buah tangan yang ingin kami sumbangkan. Kami pun mengatur strategi. Saya dan seorang teman ke Mirota membeli biskuit untuk dibawa menengok teman tadi. Yang lain berganti baju dan mengambil motor serta bersiap-siap. Kami pun janji berkumpul di pendopo kampus setelah waktu zuhur.

Sampai Mirota (ini adalah nama supermarket murah langganan mahasiswa) kami kaget, orang-orang menjejali keranjang dan troli bagaikan besok lebaran. Untuk mendapatkan biskuit saja saya harus keliling dari rak ke rak dan berebut. Semua orang panik. Di kasir yang sebagian tutup karena pegawai tak masuk kerja, ketegangan makin nyata. Dan saat itulah pertama kalinya saya dengar seorang ibu dengan mimik muka takut dan menahan tangis bilang, “Tsunami mbak, piye iki? Allahu Akbar!” Seketika saya ngeri, tampaknya sebagian besar pengunjung juga menjadi terbayang-bayang dahsyatnya Tsunami Aceh 2004 lalu. Semua orang bergidik. Panik.

Buru-buru kami ke luar dari supermarket dan menuju ke Jalan Kaliurang yang ternyata telah macet. Suara klakson bersahut-sahutan membuat semua orang marah dalam kepanikan. Di depan Pom Bensin Jakal, kami melihat dua orang supir bertengkar berebut bensin, seorang ibu menangis dan melerai, dan di trotoar bebrapa perempuan tergopoh-gopoh menarik koper.

Ternyata informasi menyesatkan (yang kini kita sebut hoax) telah menyebar ke seisi kota bahwa Tsunami datang, dan airnya telah sampai Bantul. Rasionalitas berpikir serasa hilang. Saya sempat termakan hoax itu. Membayangkan air bah menghantam hingga Bantul dan sebentar lagi menuju Keraton adalah kengerian yang selama ini cuma saya sakikan di film-film tentang bencana alam. Saya putuskan untuk mampir ke kost dan mengambil ijazah saya, mewadahinya dalam plastik, dan menyimpan dalam tas. Sepanjang jalan menuju kampus yang saya lihat adalah orang-orang menangis, eksodus besar-besaran keluar dari Jogja.

Akhirnya kami berangkat menuju Bantul dengan naik 4 motor, delapan orang. Sampai bagian selatan di Jalan Parangtritis perjalanan kami agak terhampat. Jalan penuh orang berkerumun. Semua menatap ke arah timur jalan. Saat kami menengok, tampak gedung kampus STIE Kerja Sama (Stikers) yang sebelumnya berdiri di sana sudah runtuh. Iya, runtuh! Bukan cuma rusak!

Kami tekatkan tetap menuju Bantul demi menengok teman. Selepas jembatan dekat pasar, saya cuma bisa menganga, mulut saya kering, jantung saya berdebar keras sekali, semua rumah hancur. Makin ke selatan keadaan lebih menyeramkan. Banyak sekali rumah yang rusak. Orang-orang berkumpul di tepi jalan tampaknya takut kembali ke rumah.

Tak berhasil menemukan teman kami, tampaknya jalur komuniksi telah lumpuh sepenuhnya. Kami pun menuju Lapangan Masjid Agung Bantul, berusaha mencari siapa tau teman kami mengungsi di sana.

Di tepi lapangan itu ada sebuah kantor kecil dengan logo palang merah. Kami ke sana menyerahkan biskuit yang terlanjur kami beli. Seorang petugas menerima dengan cepat tanpa basa-basi. Kami melihat ke belakang kantor tempat lapangan luas itu berada. Rasanya jantung saya sudah menyumbat tenggorokan. Ratusan orang berada di lapangan rumput itu. Sebagian besar terbaring, sisanya berlarian ke sana kemari. Sejenak kemudian sebuah truk datang, ternyata berisi korban dari desa-desa sekitar, puluhan orang diturunan dari truk oleh petugas palang merah yang seadanya. Kemudian mayat-mayat dalam kantong mulai diturunkan.

Saya yang seumur-umur belum pernah melihat kejadian seperti ini lengkap dengan nuansa kepanikan, udara panas yang lembab, suara-suara minta tolong dan teriakan kesakitan cuma bisa melongo. Sesak rasanya dada dan ingin menangis. Saya putuskan untuk balik menemui petugas di meja depan tadi, yang sekarang sedang menulis di papan tulis dan memutakhirkan jumlah korban. Saya mendaftar menjadi sukarelawan.

Berikutnya saya sudah memakai rompi palang merah, sarung tangan dan kotak kecil P3K. Saya diminta menyisir ke lapangan dan membersihkan luka para korban di sana. Dengan masih gemetar saya dan teman menuju ke barisan korban yang berbarig di rumput. Detik itu saya merasa bersyukur masih hidup.

Saat sedang membersihkan punggung seorang bapak yang luka akibat tertimpa tembok rumah, sesekali saya ajak ngobrol dari belakang, ternyata dia berusaha menyelamatkan anaknya yang masih kecil. Anaknya selamat, tapi oran tuanya yang sedang memasak di dapur tak selamat. Tubuh sang bapak menjadi pelindung dari batu bata yg runtuh. Saya menangis tanpa suara. Cuma mata yang berkaca-kaca.

Belum selesai saya menenangkan diri, tangan saya sudah ditarik ke sana-ke mari oleh beberapa orang. Saya ingat sekali seorang anak perempuan menarik tangan saya sambil memohon, “Mas, Bapakku tambani yo, Mas.” Sementara tangan saya yang lain digeret seorang bapak sambil selewat bilang, “Mas ono sing parah iki!”

Saya limpahkan anak perempuan tadi ke relawan lain yang berrompi sama, saya tak kenal, dan cuma bilang, “Mbak adek ini tolong ya.” Lalu saya mengikuti bapak tadi. Tiba di bagian tengah kerumunan. Seorang perempuan tua tampak kesakitan, melihat dari kondisi kakinya, sepertinya patah. Saya buru-buru menyapu pandangan mencari dokter berjubah putih, langsung saya lari ke sana untuk mengabarkan kondisi perempuan tua tadi.

Menjelang sore, saya baru tau, tak banyak dokter di sini. Dokter yang saya temui sebelumnya adalah dokter-dokter Singapura yang ditugaskan untuk bersiap siaga di barak pengungsian Merapi. Mereka dipindahkan ke Bantul seketika. Kebingungan, apalagi sebagian tak bisa berbahasa Indonesia, apalagi Bahasa Jawa, yang lebih sering dan dipahami penduduk desa di Bantul. Maka saya memutuskan untuk membantu mereka jadi interpreter dadakan, menerjemahkan Bahasa Jawa ke Bahasa Inggris.

Mereka meminta saya mencari kayu, ranting, kardus, apapun yang keras. Saya kemudian mengumpulkan apapun yang saya bisa temui di sekeliing lapangan dan tak lupa menyambar tali rafia dan tali pramuka. Baru sekali itu saya tahu, benda-benda di sekeliling kita bisa berguna untuk fiksasi. Membuat kaki atau tangan yang cedera (bahkan patah tulang) menjadi lebih terjaga tetap ajeg dan tidak makin parah.

Petangnya, beberapa mobil bertuliskan ‘Unit Reaksi Cepat’ dari salah satu brand obat sakit kepala datang. Saya mendatangi mereka sambil menanyakan apa saja yang mereka bawa. Beberapa obat umum mereka bawa, tapi sedikit sekali obat-obat untuk pertolongan pertama dan luka. Ada kasa dan sedikit kapas, namun tak ada cairan pencuci luka. Untungnya ada sedikit obat merah. Jogja memang tak bersiap untuk gempa, siapa yang menyangka kalo yang akan dihadapi bukan pengungsi gunung meletus?

Sedihnya, hanya sedikit tenda tersedia. Beberapa tim militer sedang mengusahakan membawa tenda-tenda lain, tapi kami tak tahu kapan akan datang. Bisa jadi malam nanti atau justru besok pagi. Di pojok belakang Masjid Agung yang bersisian dengan lapangan, beberapa orang tengah mendirikan tenda. Sejurus kemudia kami dipanggil untuk membantu memindahkan pengungsi yang luka-luka ke tenda, seadanya. Sementara satu tenda kami dedikasikan untuk kantong-kantong kuning berisi jenazah.

Kata orang, selalu ada yang pertama. Tapi saya tak pernah menduga, bahwa hari itu akan jadi pengalaman pertama saya mengangkut jenazah. Saya ikut merasakan bentuk kaki yang kaku dalam kantong yang kami bopong bertiga. Rasanya campur aduk. Bolak-balik saya cuma bisa bergumam dalam hati, “Innalillahi… innalilahi…”. Anehnya saya tak takut.

Malam mulai datang, genset yang terbatas hanya dinyalakan untuk menerangi pos medis dan kantor. Lapangan itu sebagian gelap. Orang-orang masih berbaring hanya di atas rumput. Sebagian kecil dengan beralas selimut atau terpal. Isakan dan tangisan masih kerap kami dengar berganti dengan suara kesakitan. Kadang rintihan, juga teriakan.

Saya duduk di teras kantor, di mana terdapat sebuah papan tulis hitam kecil yang digantung di dindingnya. Seorang petugas lelaki umur pertengahan dua puluhan sedang mengganti data jumlah korban. Saat itu sudah lebih dari 800 meninggal seingat saya. Setiap ada truk evakuasi datang, mereka ditanya berapa jumlah yang meninggal, dan ada tidaknya korban yang kemungkinan tertimbun di rumah mereka.

Melalui jaringan HT antar relawan, mereka saling melaporkan. “Bambanglipuro RT 5 ada 12, Mas!” Angka terus diperbarui dengan cepat, terlalu cepat. Jumlah kematian terlalu banyak! Sampai akhirnya sang petugas merasa kesal dan marah dengan keadaan. Dia berteriak dan kemudian menunduk sambil berulang kali menyebut “Astaghfirullah, Ya Allah! Astaghfirullah!” Sejurus kemudian dia menangis. Saya cuma bisa duduk mematung melihat pemandangan ini. Saya tak membayangkan bagaimana ngerinya menuliskan jumlah korban meninggal yang makin banyak. Termasuk jumlah tetangganya yang meninggal, bahkan mungkin saudara dan keluarganya. Lama setelahnya, saya mngetahui lebih dari 6000 orang meninggal dunia. Jumlah yang sangat besar!

Bantuan makanan mulai berdatangan, malam itu saya mendapat jatah nasi bungkus yang tampaknya berisi lauk seadanya, sama seperti pengungsi lain. Saya sudah melepaskan rompi palang merah warna biru navy itu karena terus-menerus diajak, digeret, dimohon untuk mengobati. Saya bukan dokter, saya tak bisa apa-apa.

Mulai sesak dada melihat keadaan ini, saya putuskan untuk membantu pos obat. Usai magrib, cukup banyak bantuan obat-obatan dari berbagai kampus berdatangan. Seorang mahasiswi chinese berkaca mata menjaga pos itu. Saya minta ijin untuk menemaninya. Saya lupa namanya, tapi dia berasal dari Sanata Dharma, dan mengajari saya untuk mengelompokkan obat. “Ini untuk nyeri, sakit kepala, ini untuk maag dan mual, bagian sini untuk Betadine, kapas dan kasa di sana ya.”

Mahasiswi penjaga pos obat tadi dengan terburu-buru harus pamit karena ada korban yang sedang hamil tua dan butuh dirujuk ke rumah sakit demi keamannanya. Tim relawan meminta dia untuk menemani dalam ambulans. Saya sendirian. Melayani permintaan obat dari relawan lain dengan rasa campur aduk. Makanan saya hanya sempat dibuka sekejap, nafsu makan saya hilang karena keadaan, saya bungkus lagi dengan karet terpasang.

Perempuan berjilbab dan bertubuh mungil, menghampiri saya dan menawarkan bantuan untuk menemani menjaga pos obat. Setelah saya iyakan dan mengucap terima kasih, kami saling mengobrol. Saya kagum bukan main. Selain relawan, dia juga korban. Rumah orang tuanya yang tergolong rumah kuno runtuh sebagian. Orang tuanya baik-baik saja dan mengungsi ke Magelang tempat saudaranya tinggal.

Saya tanya kenapa dia tak ikut mengungsi dan malah jadi relawan. “Percuma jg to mas di Magelang ga bisa ngapa-ngapain. Di sini saya jd bisa ikut bantu-bantu.” Lebih lanjut dia bercerita, bahwa yang dia lakukan tak sebanding dengan relawan lain yang dia temui sore tadi. Keluarganya meninggal tertimbun reruntuhan. Dan dia masih membantu orang lain sambil menunggu regu tentara dan alat berat datang membantu evakuasi. Saya salut!

Lewat tengah malam seorang relawan di dekat saya berteriak mengungkapkan kekesalan. Pasalnya genset hampir mati dan solar dijual mahal sekali oleh sebagian oknum! Mendengarnya, saya marah! Bagaimana mungkin manusia-manusia itu masih mengambil untung untuk kantongnya dari bencana separah ini!Tapi tak satupun kata-kata keluar. Hanya wajah saya terasa panas dan dada saya makin sesak! Bangsat!

Sedari tengah malam, kami terus-menerus berdoa dalam hati. Bintang-bintang hilang dan langit gelap gulta. Tak ada yang lebih buruk daripada daripada hujan deras yang membuat keadaan makin kacau. Tapi tampaknya Tuhan punya maksud lain. Hujan turun juga, deras sekali! Para pengungsi berlarian mencari tempat berteduh di bawah pohon, berjejalan dalam tenda yang hanya ada beberapa, sebagian merangsek ke dalam kantor kecil atau masuk ke masjid yang sudah tak mampu menampung. Sisanya, yang terluka, sebagian karena patah tulang atau cedera, hanya bisa pasrah.

Para relawan panik dan bergegas menggotong beberapa pengungsi. Tapi jumlah korban sebanyak itu tak sebanding dengan jumlah kami yang mencoba menolong. Malam itu dalam hujan yang membasahi badan, saya tahu rasanya menangis tanpa air mata. Menangis karena tidak bisa berbuat apa-apa. Menangis dalam kepasrahan. Relawan perempuan di sebelah saya menangis terisak lalu berteriak melampiaskan kesedihan dan kekesalannya pada keadaan. Sementara saya cuma bisa duduk di tanah berlapis rumput yang banjir air dengan lemas. Kenapa Tuhan?!

Hujan akhirnya reda tak lama setelah dia muntah ke bumi. Sebagian relawan mulai menyisir pengungsi yang sudah kembali ke tengah lapangan. Jaga-jaga bila ada yang hipotermi dan perlu dilarikan segera ke rumah sakit.

Saya ingat waktu itu pukul 4 pagi. Saya memutuskan untuk pulang ke kost saya di utara. Dengan motor sekitar 40 menit. Baju saya basah dan kotor oleh lumpur. Di pengungsian saya tak tega mandi karena banyak sekali pengungsi yang butuh air. Dalam perjalanan saya melihat banyak sekali orang tidur dan tergeletak di tepi jalan. Beberapa dalam mobil yang dibiarkan terbuka. Beberapa beralas tikar, bahkan koran. Tampaknya semua takut kembali ke rumah. Gempa kecil memang terus saja terjadi. Beberapa mengulurkan kardus bekas meminta sumbangan.

Sudah subuh saat motor yang saya tumpangi masuk ke Kota Jogja dan wilayah Sleman tempat saya tinggal. Sepanjang jalan saya dapati mahasiswa dengan koper atau tas besar berdiri di tepi jalan. Mungkin menunggu bus atau mobil travel untuk mengungsi ke luar Jogja. Mobil-mobil tanggap bencana banyak sekali. Logo palang merah dan bulan sabit merah di mana-mana. Mobil-mobil stasiun TV dan kantor berita berjajar-jajar di parkiran sebuah rumah makan padang 24 jam di Jalan Kaliurang.

Kota ini mungkin hancur, tapi saya yakin dia tidak lumpuh. Gempa besar ini memaksa saya belajar banyak. Termasuk pengalaman menjadi relawan kebencanaan saya yang pertama. Hal impulsif yang tak pernah saya sesali.

Lebih dari 12 jam di lapangan pengungsian Bantul mengajarkan saya banyak hal. Mengaduk-aduk emosi saya luar biasa. Memberi pengalaman saya untuk berempati dan bersyukur. Dan tentu saja membuat saya makin yakin bahwa banyak orang baik di luar sana, yang tidak egois dan selalu ingin bermanfaat untuk orang lain.

Inilah pertama kali saya mengenal bentuk kerja sosial dan kerelawanan. Hal ini sangat membekas dan mempengaruhi kehidupan saya hingga sekarang. Keputusan saya untuk terjun bekerja di isu-isu sosial dan lingkungan dan sering kali bergabung dengan NGO atau organisasi non-profit semuanya akibat pengalaman luar biasa 27 Mei 2006 tersebut.

Leave a comment