Pertanyaan sejuta umat, dan saya yakin sebagian besar dari kita percaya bahwa umur bukan jawabannya. Umur yang berwujud angka itu tidak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan seseorang. Setidaknya, begitulah adanya dalam beberapa kasus yang kita temui.
Lalu, bagaimana dengan status pernikahan? Apakah yang telah menikah menjadi lebih dewasa dari yang masih melajang? Sepertinya belum tentu. Kalau status pendidikan? Apakah yang berpendidikan lebih tinggi juga berarti memiliki tingkat kedewasaan yang lebih? Saya rasa juga bukan.
Lalu apa yang menjadi tolok ukur?
Setelah saya pikir-pikir, timbang-timbang, dan analisis sambil rebahan di pagi hari, jawaban saya mengerucut pada dua hal. Setidaknya begitulah yang berhasil saya ramu dan analisis dalam hati.
Yang pertama adalah respon seseorang terhadap kritik.
Kritik, adalah sebuah hal yang menarik. Sering dikategorikan dalam kata yang bernada negatif, kritik justru sangat positif. Maka tak perlu menambahkan ‘sebuah kata untuk menerangkan’ semisal kritik-yang-membangun. Kritik memang sejatinya membangun. Manusia mengubah perilakunya karena kritik. Seperti evolusi yang prosesnya hanya mungkin terjadi akibat mahluk hidup menjadi adaptif terhadap tantangan atau masalah.
Kemampuan merespon kritik inilah yang menurut saya bisa dijadikan salah satu tolok ukur kedewasaan seseorang. Kritik memang kadang pahit. Kritik seperti tembok yang menghantam tiba-tiba, atau cermin yang pecah berkeping-keping. Tapi dari sanalah kehidupan menjadi lebih baik. Maka cara individu meresponnya adalah bentuk kedewasaanya.
Sebagian orang menunjukkan kemarahan secara terbuka saat dikritik, sebagian lain sedih dan menyalahkan diri sendiri, sebagian lagi memilih untuk menempatkan diri menjadi korban dan memasang jurus minta dikasihani. Apapun itu, mereka yang berhasil berdamai dengan dirinya saat dikritik, yang menggunakannya sebagai bahan bakar untuk bertumbuh, adalah yang dewasa.
Anda ingin menjadi dewasa? Terbiasalah untuk dikritik. Tunjukkan respon yang bermanfaat untuk diri anda.
Lalu apa parameter kedua versi saya?
Kemampuan untuk senantiasa tidak merugikan orang lain adalah jawabannya. Betul, sebaik-baiknya menjadi manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain. Dan semuanya bisa dimulai dengan tidak menjadi mahluk yang merugikan bagi yang lain.
Kemampuan untuk mengidentifikasi, menakar, memilah, menganalisa, memutuskan, dan melakukan serta mengevaluasi sebuah keadaan adalah kunci kedewasaan. Setiap tindakan yang dewasa adalah yang tidak merugikan orang lain. Bahkan dalam keinginan untuk memenuhi ego diri pun, prinsip ini perlu diutamakan.
Apakah perilaku saya akan merugikan orang lain? Apakah saya akan bahagia bila tujuan saya tercapai tetapi orang lain dirugikan? Bagaimana cara menentukan langkah yang masih memuaskan ego dan keinginan saya tanpa merugikan orang lain? Kenapa saya tidak boleh merugikan orang lain? Begitulah kira-kira kedewasaan diwujudkan.
Oh iya, ini pendapat saya. Tentu saja setiap anda boleh dan penting untuk berpendapat lain. Namun sekali lagi, bagi saya, kedewasaan seseorang diukur dari kemampuannya merespon kritik dan keinginannya untuk tidak merugikan orang lain.
Bila anda masih berada di sudut yang berlawanan dengan dua hal pokok di atas, tak peduli seberapa tua anda, sudah menikah atau belum, setinggi apapun pendidikan anda, bagi saya anda masih anak-anak dan butuh bimbingan.
Mari menjadi dewasa bersama.
