Kelas Ruki: “How to Sustain Your Community Campaign”

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan untuk mengisi Kelas Ruki yang diselenggarakan oleh Ruang Komunal Indonesia from Facebook. Kelas yang diselenggaran pada Kamis, 6 Februari 2020 itu berlangsung menyenangkan!

Sesuai judul kelasnya, saya ingin mengajak teman-teman komunitas dan/atau organisasi untuk mengembangkan kampanye atau gerakannya menjadi lebih berkelanjutan. Sedih rasanya kalau mendengar sebuah gerakan atau kampanye harus berakhir karena perencanaan yang tidak dibuat jangka panjang, kondisi dana yang kurang, atau bahkan masalah inter-personal.

Saat kelas ini dipublikasikan beberapa hari sebelumnya, jumlah pendaftar cukup banyak. Melewati angka 70 pendaftar. Kemudian Ruki menyeleksinya menjadi 60 peserta dengan fokus kepada komunitas dan/atau organisasi non-profit saja, sesuai dengan konsep Ruki.

Dari kuesioner yang saya titipkan di tautan pendaftaran kelas, saya mencoba memetakan siapa saja yang ikut dalam kelas ini. Termasuk di dalamnya, apa yang mereka sudah kerjakan, bagaiman ekspektasi mereka, dan masalah yang mereka hadapi. Saya juga bertanya tentang apa yang ada di pikiran mereka mengenai kampanye yang berkelanjutan. Hasilnya, sungguh sangat beragam!

Dari hasil bacaan dan analisis singkat dan sederhana tersebut, saya memutuskan untuk memfokuskan materi pada memahamkan dan menciptakan ekosistem berkelanjutan. Dengan menggunakan 7 poin di bawah ini:

  1. Perencanaan yang tepat
  2. Kepemimpinan dan pengelolaan sumber daya manusia yang baik
  3. Pendanaan yang aman
  4. Eksekusi yang istimewa
  5. Pengukuran dampak, pemantauan dan evaluasi, serta pembelajaran
  6. Jejaring dan kolaborasi
  7. Administrasi yang layak

Petang itu, 52 orang datang mengikuti kelas. Profilnya beragam. Mulai dari yang masih muda dan mahasiswa dengan gerakan yang baru setahun didirikan, hingga yang lebih senior dan bekerja di NGO yang telah berdiri lebih dari 30 tahun. Fokus materi saya arahkan untuk lebih banyak mengeksplorasi poin nomor 1, 4, 5, dan 6 karena keterbatasan waktu.

Sepanjang kelas, saya sendiri belajar banyak dari peserta kelas. Sebuah hal yang sangat saya sukai. Karena sejatinya saat mengisi kelas, saya bukanlah guru, belum tentu jadi yang paling tahu, apalagi yang paling benar. Untuk itu saya selalu menyiagakan sesi tanya jawab dan diskusi dengan porsi yang cukup besar. Lebih dari 1,5 jam waktu kami habiskan untuk bertanya, menjawab, dan berdiskusi. Peserta boleh menambahkan jawaban dan pembelajaran yang bisa dibagikan untuk seisi kelas, termasuk saya.

Ada hal menarik yang saya amati dalam proses ini. Pertama, semangat tinggi kadang membuat kita bergerak tanpa merencanakan dengan lebih baik. Tak ada salahnya bergerak, tapi perencanaan yang baik adalah mutlak. Apalagi bila kampanye kita ingin mengubah perilaku masyarakat, butuh pembiasaan yang cukup lama (saya percaya, setidaknya 3 tahun), dan perencanaan yang baik menurut saya, minimal untuk jangka waktu 5 tahun. Kuncinya ada di visi, motif, dan tujuan kita. Jangan kehilangan arah. Jangan kehabisan napas, karena kita sedang marathon, bukan sprint!

Kedua, Untuk mencapai perencanaan yang baik bisa dibantu dengan membuat theory of change yang disusul dengan penggunaan Logical Framework Approach untuk menyusun rencana kita agar lebih rinci dan terukur. Selanjutnya adalah pengorganisasian dan eksekusi.

Ketiga, yang juga sangat penting adalah bagaimana mengukur dampak dengan baik semua usaha kita baik secara digital maupun offline. Untuk itu baseline survey dan end survey sangatlah penting! Melakukan monitoring & evaluation mutlak hukumnya dan harus diserta dengan learning atau pembelajaran. Pembelajaran inilah harta karunnya yang sering tidak dilakukan banyak organisasi. Maka lazim kita lihat monitoring & evaluation hanya bertumpuk menjadi LPJ belaka.

Dalam sesi tanya jawab, banyak sekali muncul pertanyaan yang sangat teknis. Semisal mengenai hal digital termasuk bagaimana cara mengukurnya dan mensiasati algoritma. Yang juga banyak ditanyakan adalah problematika dan dinamika inter-personal dalam organisasi yang hemat saya bisa dibantu selesaikan dengan komunikasi yang baik dan adanya SOP yang mumpuni.

Di akhir acara, saya minta peserta kelas untuk mengisi survei singkat. Hasilnya membuat saya bahagia. Banyak yang merasa membawa pulang hal-hal yang bermanfaat. Beberapa merasa jadi tahu harus mulai dari mana. Dan hampir semuanya menyukai permainan dan belajar berjejaring dan menjalin kolaborasi.

Bonusnya, malam itu seorang wartawan Harian Kompas datang meliput, saya jadi ikut nampang di koran!

Terima kasih kepada Ruang Komunal Indonesia from Facebook yang telah menawarkan saya untuk mengisi kelas. Terima kasih untuk semua yang sudah berpartisipasi dalam kelas ini. Terima kasih karena telah ikut tumbuh dan berkembang bersama.

Leave a comment