
Yah rasanya, tidak hanya saya yang merasakan perbedaan ini. Lebaran di tahun 2020 sungguh sangat jauh dari harapan dan bayangan kita. Dalam situasi pandemi virus Covid-19 ini akhirnya kita harus ikhlas merayakan lebaran dalam situasi yang boleh dibilang, adaptif, atau darurat, atau mungkin sebagian dari kita menyebutnya apa adanya.
Bagi saya, ini adalah untuk pertama kalinya tidak pulang ke rumah orang tua selama merayakan Idul Fitri 33 tahun ini! Saya cuma pernah 3 kali skip saat Idul Adha; dua kali saat harus bertugas jadi pemeriksa hewan kurban saat masih kuliah dulu, dan sekali Idul Adha saat sedang berada di Malaysia.
Lebaran tanpa mudik, tanpa kumpul bersama keluarga memang membuat sedih. Tapi manusia memang makhluk adaptif dalam situasi apapun. Akhirnya kami sekeluarga yang terpisah ribuan kilometer pun bersilaturahmi dengan video call. Ibu saya di Jepara Jawa Tengah, adik pertama saya jauh di timur, Jayapura, Papua. Sedangkan adik kedua saya di Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam di ujung barat. Saya sendiri di Jakarta.
Sempat terancan hanya minum air putih dan makan biskuit atau memesan delivery McDonald di hari raya, untungnya seorang teman baik hati memesankan dan mengirimkan ketupat, lengkap dengan opor ayam, sambal goreng kentang dan hati, juga sayur godog khas Betawi! Alhamdulillah. S
Sementara itu ziarah ke makam Bapak dan keluarga kakek-nenek tidak bisa dilakukan, Hanya mengirimkan doa dan Yasin saja. Tanpa membersihkan makan dan menabur bunga. Silaturahmi dengan keluarga besar dengan berkumpul di rumah almarhumah nenek di Klaten pun tak bisa dilakukan. Semua hanya lewat grup WA.
Buat kalian yang merasakan lebaran paling berbeda ini, jangan sedih. Kita mahluk yang adaptif! Semua demi memutus mata rantai penularan virus ini.
Selamat Idul Fitri teman! Mohon maaf lahir dan batin. Semoga berkah kebahagiaan, kesehatan, dan kedamaian untuk kita semua.
