Ghost Of Iris Past – D’Tscentstory

Layaknya vampir; dingin dan misterius, namun juga sensual.

Rilisan D’Tscentstory agak membuat perasaan saya campur aduk pada awalnya.

Sebagai salah satu penikmat aroma-aroma unik dan menarik (baca: “aneh”), D’Tscentstory yang didirikan oleh Darwyn Tse adalah satu rujukan di belantara #LokalWangi yang padat namun seringkali membosankan dan ‘soulless’. Saat Ghost Of Iris Past ini diluncurkan akhir September 2024 lalu, tentu saja kehausan akan aroma unik ini bagai melihat oase. Namun, setelah mencoba pertama kali, ada bersit kecewa yang muncul. Bukan karena parfum ini tidak bagus, namun ternyata karena ekspektasi saya yang telah memagari ruang apresiasi terhadap karya para perfumer.

Butuh beberapa bulan dan berkali-kali pemakaian hingga akhirnya saya menyadari bahwa pembangunan konsep dan penciptaan aroma adalah ranah prerogatif sang perfumer, apalagi bila kita membahas konteks artisan yang sangat personal. 

Justru setelah saya perhatikan, dalam beberapa bulan berikutnya, ada banyak penikmat baru yang jatuh cinta pada D’Tscentstory melalui Ghost Of Iris Past ini. Sesuatu yang tentu saja membuat saya senang. Publik penikmat wewangian jadi bisa mendapat pengalaman berkenalan dengan para artisan dan mengapresiasi karya-karyanya. Sebagian orang memberi testimoni dan keterkejutan saat akhirnya menyadari bahwa parfum lokal Indonesia bisa dibuat seunik, seserius, dan sedalam itu. Sesuatu yang melebihi tren dan permintaan pasar; yang masih terbatas pada manis, segar, dan ‘hantu-hantu palsu berbaju putih’, yang kalian dapuk sebagai ‘kunticore‘. Ghost Of Iris Past telah membuka pintu baru bagi publik yang lebih luas dalam menemukan kreativitas dan visi Darwyn, artisan di #LokalWangi.

Aroma Ghost Of Iris Past sendiri, sesuai namanya, merupakan jenis iris yang basah, hijau, semi transparan dengan kombinasi violet. Selain itu muncul pula nuansa mineral yang subtil. Tipe iris ini bagai penawar dari aneka jenis iris di pasaran yang dibuat terlalu powdery, hampir selalu waxy dan lipsticy, atau yang dikombinasikan dengan vanilla yang nutty, hingga iris lengket berkesan berat. 

Musk dan cendana, –yang saya perhatikan sering tampil dalam komposisi Darwyn, juga muncul sebagai penyokong yang baik; tidak kering berdebu atau creamy hangat, tapi tampil dingin. Tipis manis cedar memberikan kesan sensual dalam sedikit kengerian, seperti saat kita bertatapan dengan vampir pucat di keremangan petang.

Dalam narasinya Darwyn memberikan gambaran; seperti orbs berwarna violet yang muncul berkelebat dalam sepi yang tenang, seperti memanggil hantu masa lalu yang dingin. Narasi ini bukan sekadar bualan dan tipu-tipu marketing, bagi saya Darwyn sukses mentransformasikannya dalam aroma, dalam tekstur, hingga nuansa!

Bahkan dari seri The Three Courtesan yang cantik, Ghost Of Iris Past menurut saya lebih mudah dipakai. Performanya bukan yang ekstra, namun membekas dan membersamai kita. Saat dipakai di siang hari dan luar ruangan, nuansa mineral dan sedikit metaliknya terasa unik. Sementara saat dipakai malam hari, irisnya yang semi transparan memberi kesan misterius.

Apakah saya suka dengan Ghost Of Iris Past? Iya!

Namun, jujur saja, saya tetap berharap Darwyn Tse dan D’Tscentstory juga masih jadi salah satu suplai utama dan mitra bagi saya dalam menemukan keanehan dan kengerian yang indah di skena wewangian lokal Indonesia. 

GHOST OF IRIS PAST
D’Tscentstory
Darwyn Tse (2024)

Leave a comment