Distorted Splendour dan Crooked Opulence – Enscented Journey

Walaupun Enscented Journey masih seumur jagung, keberadaannya adalah penawar kepenatan di tengah padatnya populasi jenama mediocre di belantara ekosistem #LokalWangi kita. Begitupun dengan kehadiran founder sekaligus perfumer-nya Susan Tjong, yang menjadi angin segar dari krisis kreativitas dan percaya diri para pelaku industri wewangian Indonesia.

Setelah sebelumnya tertarik dan mencoba seri pertama rilisan Enscented Journey tahun lalu; Spiritually Touched, The Sweet Treats, dan The Old Temple, saya yakin jenama yang satu ini perlu terus dipantau perkembangannya. Kenyataan bahwa jenama ini didirikan oleh perfumer muda, seorang perempuan, dengan gaya kreasi yang unik dan jauh dari sekadar mengikuti selera pasar dan tren komersial, sudah seharusnya menjadi daya tarik bagi penyuka wewangian Indonesia. Jenama indie dan artisan seperti inilah yang akan selalu saya dukung demi cita-cita membuat ekosistem #LokalWangi yang lebih beragam, maju, dan dewasa.

The Deviant Eminence Series
Dari seri-seri yang sudah dirilis Enscented Journey, seri ketiga bertajuk The Deviant Eminence ini menduduki peringkat paling atas dari daftar favorit saya, bahkan menjadi salah satu penemuan terbaik pada 2025 ini. Susan Tjong berhasil mendobrak batasan, mengaburkan realitas dan imajinasi.
Susan terinspirasi oleh desainer Elsa Schiaparelli dan karya-karyanya yang dikatakannya avant-garde, chaotic, namun tetap anggun pada saat yang sama. Magnet Schiaparelli memang tertanam pada keberaniannya mendobrak keadaan, namun tahu batas yang harus dilanggar.

Kedua parfum dalam seri ini; Distorted Splendour dan Crooked Opulence, terasa whimsical namun sekaligus nyata dan menapak tanah. Soal nuansa, keduanya boleh dibilang saling melengkapi, namun masih koheren sebagai satu seri. Satu dari mereka dingin dan gelap, sementara lainnya tegas dan lebih hangat; tidak terlalu kontras, namun cukup terpisah oleh seutas garis tipis. Estetika dan gaya Susan yang kental dengan palet aroma herbal juga tampil memukau, apalagi dipadankan dengan pendekatan western yang membuatnya semakin unik. Selama tetap konsisten di jalur indie dengan karakternya, Susan seharusnya tidak perlu risau, walaupun saya cukup yakin mayoritas penikmat wewangian Indonesia masih akan melabeli karyanya seperti “aroma toko obat cina”.


DISTORTED SPLENDOUR
Citrusy Notes, Green Tea, Lily-of-the-Valley, Jasmine, Spicy Notes, Saffron, Iris, Metallic Notes, Patchouli, Musk

Distorted Splendour
Pertama kali menyemprot Distorted Splendour, aroma jeruk yang semarak dan zesty beserta jahe segar yang sparkly langsung menyembur dengan kuat. Hampir mirip seperti saat kita mengupas kulit jeruk dan merasakan “ledakan” minyak atsiri dari kulitnya. Sejenak kemudian, aroma teh hijau yang segar, bukan matcha, ikut menjinakkan jeruknya. Aroma melati yang cantik, namun tidak kemayu, bukan juga yang terlalu indolik, kemudian menjadi bintang utama. Saffron yang spicy tampaknya membuat melati jadi terasa dingin, sedikit berdebu, dan agak metalik. Dry down-nya anggun dan sophisticated dengan tipe patchouli “putih” dan musk, sementara jeruknya jadi lebih jinak dan cenderung seperti permen atau manisan. Namun sayangnya, bagi saya dry down-nya masih terlampau kuat sehingga terasa sedikit pengap.
Dalam narasinya, mereka menulis “shatters the resilient beauty in chaotic sophistication” yang saya rasa cukup tepat menggambarkan atmosfer yang diciptakan oleh aromanya. Seperti hibrida kekunoan dengan masa depan, tradisional dengan kecanggihan, dan menawan namun juga tangguh.

CROOKED OPULENCE 
Wild Grape, Orchid, Tangerine Blossom, Ginger, Ink Notes, Black Pine, Metallic Notes, Almond, Tobacco Leaf, Musk, Leather, Vanilla

Crooked Opulence
Nama menarik yang cocok disematkan untuk aroma yang tak kalah uniknya. Pada fase pembukanya kita bisa mendeteksi aroma buah, yang oleh mereka ditulis sebagai note anggur liar, namun bagi saya, aromanya seperti perpaduan antara anggur hijau dengan sedikit buah persik. Aroma buahnya perlahan menjadi semakin dalam dan juicy dengan latar belakang floral dan neroli yang cantik. Nuansa herbal yang dingin; kombinasi aroma tinta, pinus, dan metal, cukup kuat dan berhasil menjinakkan floral fruity-nya menjadi tidak terkesan komersil, dewasa, dan whimsical. Aroma powdery juga muncul dari almond, membuat teksturnya seperti serbuk halus bedak namun mampat. Ada sejumput daun tembakau hijau, bukan yang kering, bukan yang berasap, tapi yang segar. Sementara kombinasi kulit, musk, dan vanilanya menciptakan dry down yang elegan dan mewah. Alih-alih dibawa ke arah hangat, nuansa yang ditimbulkan saat dipakai justru sejuk memeluk.
Setelah beberapa kali pemnakaian, yang satu ini menjadi favorit saya dan lagi-lagi saya setuju dengan yang mereka tulis; “unravel the untamed and irresistible in decadence”.

Karya-karya Susan Tjong melalui jenamanya Enscented Journey memang unik dan di luar kebiasaan “standar lokal” saat ini. Tantangannya adalah tetap teguh dengan kekuatan estetikanya. Tidak sekadar teknis, budaya dan latar belakang yang turut diinfus dalam karya-karyanya pun semoga tetap jadi identitas dan tidak lalu luluh dengan kemauan pasar.
Setelah mencoba 7 karyanya, saya mulai hafal sidik jari Susan, namun jujur saja, rasanya juga butuh kejutan-kejutan dan jeda yang menarik agar tidak terlalu monoton. Susan perlu memaksa dirinya melangkah di luar pola kebiasaannya,

Aroma memang selalu jadi tolok ukur utama bagi saya, namun dengan koleksi yang makin rutin, Enscented Journey perlu memikirkan branding dan tampilan yang lebih polished. Label dan sticker yang lebih berkualitas dan kemasan yang aman. Tidak saja akan memberikan nilai tambah, hal ini juga esensial untuk menjaga karyanya tetap aman; baik saat dikirim maupun disimpan, atau sekadar dipajang juga dipamerkan di media sosial dengan bangga.


Leave a comment