420 – Filosphia x Edrin Wangi

Sebenar-benarnya Hasil Kolaborasi

Jenama parfum yang berbasis di Bandung, Filosophia, kembali berkolaborasi dengan YouTuber sekaligus reviewer parfum, Edrin Wangi. Setelah sukses dengan Fly Me To The Moon pada 2023 lalu, butuh waktu yang cukup lama bagi mereka dan perfumer Eldwen Wang, dalam proses melakukan research and development, untuk akhirnya merilis produk baru awal Mei 2025 lalu, yang diberi judul 420.

Bagi saya, persiapan dan terutama riset dan pengembangan, yang membutuhkan waktu tidak sedikit adalah salah satu tanda utama bahwa sebuah produk berkualitas. Setidaknya dari hal tersebut kita dapat simpulkan bahwa pihak jenama benar-benar serius dalam menghadirkan produk, tidak sekadar membotolkan sesuatu yang sudah jadi atau menempelkan narasi, yang kadang setinggi Monas, namun untuk produk yang hanya rata-rata. Pun kadang yang terjadi adalah tidak adanya kesesuaian antara narasi yang dibuat dengan arah aroma produk yang dihasilkan.

Kolaborasi, walaupun sering dipilih sebagai jalan pintas bagi banyak jenama untuk sekadar meningkatkan popularitas dan mendongkrak penjualan, sejatinya bukan perkara yang mudah. Menggabungkan 2 atau lebih kepala beserta isinya adalah hal yang jelas membutuhkan usaha, dan bisa jadi sangat melelahkan. Wajar jika mereka butuh waktu 1,5 tahun bahkan lebih, dengan beberapa kali bongkar pasang elemen bahan dan aroma. Apalagi ada 3 kepala yang harus diselaraskan; Lulu AR sang owner, Edrin Witakarna sebagai kolaborator, sekaligus Eldwen Wang yang menjadi perfumer. Masing-masing dari mereka pasti punya preferensi dan gaya aroma masing-masing, tapi bagusnya, 420 solid dan tidak ‘nanggung’ sebagai sebuah produk parfum.

Aroma cannabis-nya sendiri tergolong menarik, Eldwen Wang menciptakan accord yang kemudian disebut 420 Leaf Accord. Cannabis yang ditampilkan seakan ‘mengkompliti’ gaya aroma sejenis yang sudah ada; bukan tipe yang smoky, bukan juga yang terlalu green, atau membekap, tapi lebih seperti asap tipis yang melayang di permukaan.

Elemen aromatik yang digunakan, cukup memberi kesan gagah. Clary sage dan petitgrain memunculkan nuansa hijau yang segar namun sekaligus sedikit pahit, bagai letupan kecil molekul astringen. Pilihan floral mereka jatuh pada geranium, yang cukup dalam menginfusi kelembutan, namun tetap tampil dengan nuansa hijau yang memberi sedikit dingin. Selanjutnya saat beranjak ke dry down, ada kesan yang lebih hangat, pelan menyeruak.

Body aromanya woody dengan tekstur agak creamy cenderung velvety yang kemungkinan berasal dari guaiac wood, disertai hangat resinous dari fir balsam. Semuanya kemudian diseimbangkan dan ditempatkan dalam fondasi yang solid dari perpaduan cendana, vanila, dan nilam, serta akar wangi.

Performanya sendiri pada kondisi kulit saya, sedikit di atas moderate. Bagi saya sudah cukup dan tepat, namun mungkin bagi sebagian besar warga wangi Indonesia yang mendambakan SPL monster akan dirasa kurang dan jadi pertimbangan. Kendati begitu, tipe aromanya yang woody tampil cukup tebal dan mantap. Dalam beberapa menit setelah semprot, transisi aromanya langsung terasa, dan kemudian menetap di kulit dan menciptakan rasa nyaman. Justru saya mengapresiasi keputusan mereka tidak membuatnya buas karena hanya akan merusak pengalaman dan perjalan apresiasinya.

Secara aroma, 420 cocok (dan dengan cerdas) menyasar ceruk pasar yang sedang tumbuh. Mereka yang mulai mengakrabi aneka jenis variasi aroma parfum, baik lokal maupun internasional. Pun terkait pangsa pasar yang disasar, rasanya saya tidak perlu juga berharap aromanya dibuat lebih unik. Kelompok target pasar ini merupakan pengguna yang sedang rutin mengeksplorasi, namun juga masih menempatkan value ekonomi, daya pakai, dan performa sebagai parameter dan pertimbangan utama. Secara ‘matematika wangi’, keputusan membuat produk ini dalam sediaan botol 100 mililiter pun tampaknya digunakan dalam pertimbangan di atas, disertai dengan harga yang layak, namun sedikit di atas rata-rata produk lokal sejenis di pasaran.

Bagi saya pribadi, kenyataan bahwa (sementara ini) mereka hanya tersedia dalam kemasan botol 100 mililiter justru kendala paling maksimal. Sebagai pengguna yang memproyeksikan parfum ini cocok untuk dipakai bekerja di suasana kantor dalam ruangan ber-AC, rasanya tidak praktis bila harus membawa botol sebesar dan seberat itu. Namun perbaikan dan peningkatan; botol yang lebih well-made, plat kuningan yang lebih rapi dan halus, serta tutup yang simple namun elegan dalam warna emas; sangat patut diapresiasi. Detail tekstur pada boks kemasan serta tulisan embosnya pun menarik hati.

420
Filosophia x Edrin Wangi

Eldwen Wang (2025)

Top
Clary Sage (natural), Petitgrain
Mid
420 Leaf Accord, Geranium (natural)
Base
Guaiac Wood, Vanilla, Fir Balsam (natural), Patchouli (natural), Vetiver, Sandalwood

Kesimpulannya, 420 adalah tentang kompromi. Tentang mengambil titik tengah antara versatility dan keunikan, tentang menyatukan ide dan ketepatan eksekusi, dan tentang membaca pasar sekaligus memupuk idealisme.

Sekarang saatnya, kalian mencoba dan mengapresiasi #LokalWangi hasil kolaborasi yang dibuat dengan niat sepenuh hati ini.


Dukung #LokalWangi agar lebih maju, dewasa, dan beragam, serta berkualitas
Mari terhubung melalui Instagram @fragranceisindividual

Leave a comment