“Kak, kamu dulu salah jurusan ya?!”

Coba tebak! “Siapa” sebenarnya Juris?

Begitulah kira-kira pertanyaan teman dan kenalan saat mengetahui apa jurusan yang saya ambil di bangku kuliah dulu. Sebelum spontan melontarkan pertanyaan tadi, biasanya diawali dengan ungkapan ekspresi kekagetan, atau seringkali tatapan ‘no, you kidding, right!’.

Lucunya, saya selalu menikmati respon seperti itu dengan bahagia dan puas!

Melihat apa yang saya kerjakan sekarang, dan yang saya lakukan sekira 9 tahun terakhir ini. Orang selalu mengira saya alumni FISIP (Komunikasi atau sejenisnya), beberapa menyangka anak Ekonomi, bahkan beberapa kali ditebak sebagai anak Teknik, dan cukup sering disangka anak Sejarah atau Arkeologi. Dulu, ada masa saya sering juga disangka lulusan sekolah fashion atau seni.

Yah saya selalu menikmati melakukan permainan tebak jurusan pada seorang kenalan atau kolega baru. Biasanya saya biarkan orang menebak-nebak, sambil bertanya alasannya. Tak satupun, hingga detik ini yang benar di tebakan pertama!

Untuk informasi kalian semua, pendidikan formal saya bukanlah semua tebakan di atas. Saya adalah alumni Fakultas Kedokteran Hewan! Iya, saya mempelajari ilmu tentang mengobati hewan, mulai dari yang paling dasar seperti anatomi dan semua nama latin bagian tubuh hewan-hewan tersebut, teknik diagnosa penyakit hewan, hingga (tentu saja!) obat-obatannya!

Kaget? Tenang kamu tidak sendirian! Puluhan, atau mungkin seratusan orang salah menebak. Bahkan banyak yang masih tidak percaya sampai sekarang. Ketidak-percayaan itu seringkali disertai dengan pertanyaan yang menggelitik saya; “Mas, berarti kamu dulu salah jurusan dong?!”

Sebuah bukti saya memang pernah kuliah di Pendidikan Dokter Hewan, circa 2008

Apa benar saya salah jurusan?

Jawaban saya selalu TIDAK!

Saya tidak pernah merasa salah jurusan. Justru makin ke sini, saya makin mensyukuri pendidikan formal yang saya ambil 15 tahun lalu tersebut, Pasalnya, kebiasaan saya berpikir secara komprehensif, mempertimbangkan aturan dan tatanan namun tetap kreatif dan “nyeni” sudah menjadi pakem berpikir saya belasan tahun ini. Kalau bahasa jaman kuliah saya dulu, lege artis.

Kuliah di Kedokteran Hewan membuat kemampuan “komunikasi” saya terasah. Kalau dokter biasa (baca: dokter manusia) mudah saja menggali anamnesa dari pasiennya, tidak bagi para dokter hewan. Mereka harus melakukan pendekatan yang sedikit berbeda. Mewawancarai klien (tuan si binatang – peliharaan atau ternak), sekaligus memperhatikan dan menggali data dari si pasien (baca: hewan) yang tentu saja tidak bisa bicara bahasa manusia! Mengamati perubahan perilaku, mengetahui perilaku lazimnya, dan kemudian mendeduksi sebuah permasalahan hingga mengarah ke diagnosa. Semuanya dilakukan bertahap, penuh kehati-hatian, namun harus komprehensif, holistik, dan juga cepat! Ingat, dokter hewan juga seringkali berkejaran dengan nyawa!

Wajib mempelajari bahasa-bahaasa kedokteran dan istilah-istilah Bahasa Latin sekaligus dituntut mampu mengelaborasi ke peternak yang seringkali berpendidikan rendah di desa adalah sebuah skill tersendiri. Hal ini membuat saya terbiasa mengolah jargon menjadi bahasa yang lebih populer. Intinya semua harus paham! Dan itulah hakekat penyadartahuan, sesuatu yang saya kerjakan sebagai campaigner, apapun isunya.

Yang lebih penting, saya dibiasakan memandang masalah secara menyeluruh. Tidak bisa memeriksa sebuah penyakit hanya memperhitungkan sebuah sistem saja, hanya pernapasan, misalnya. Begitupun tidak bisa hanya tentang perubahan patologis yang nampak saja. Tapi semua data harus diolah dalam otak bagai Sherlock Holmes, termasuk memasukkan data pendukung, seperti hasil laboratorium darah, parasit, tinja, dan sebagainya. Bahkan perubahan perilaku pun seringkali ikut jadi sumber data penting. Hal ini berefek pada cara pandang saya saat menyikapi semua permasalahan.

Saya jadi paham isu Alzheimer tak cuma sekadar obat, namun juga harus mempertimbangkan caregivers-nya, isu transportasi tak hanya masalah infrastruktur, tapi juga ‘bahan bakar’ dan perilaku penumpangnya. Fashion bukan cuma baju mewah dan kalangan jetset, tapi juga produksi, etik, bahan baku, tren, hingga customer service. Sementara isu energi yang tak cuma sebatas pembangkitan yang bersih, tapi juga mengenai akses, keterjangkauan, manfaat pertumbuhan ekonomi, dan kewajiban menjaga alam. Hidup ini memang komplek!

Lebih seru lagi, saya dibiasakan belajar hal baru! Sebuah tantangan yang menarik, atau meminjam istilah teman saya, tantangan yang adiktif. Saya seperti kecanduan belajar hal baru. Bagi saya FOMO – fear of missing out, yang katanya penyakit generasi internet, justru menjadi unsur penting untuk terus bertumbuh, Era sosial media membuat saya merasa banjir dan mudahnya informasi adalah berkah, bukan masalah.

Berasal dari lingkup bidang lain membuat saya membentuk, apa yang saya sebut sebagai Juris’ signature; sebuah cross-cutting creative campaign. Membuat saya bisa lebih mudah (dan lebih beruntung) mengeksplorasi. Misalnya menggabungkan isu transportasi dengan seni atau fashion, isu energi dengan gaya hidup dan ekonomi, atau isu seni dan keberlanjutan secara lingkungan.

Fenomena dan epidemi live in bubble tidak saya alami karena perspektif dari luar selalu menempel pada benak saya. Lebih mudah menakar bagaimana kampanye dan komunikasi dari sudut pandang audience atau orang awam di luar sana, karena pada dasarnya saya adalah bagian dari orang-awam-di-luar-sana itu.

Jadi, kembali ke pertanyaan yang sering diajukan orang tadi, “Apakah saya salah jurusan?”. Dengan mantab sekali lagi saya jawab TIDAK. Toh saya memulai menjadi campaigner pun setelah tau asiknya membantu sebuah kampanye konservasi badak Jawa bersama seorang teman. Mata kuliah pilihan saya pun waktu itu, Ilmu Kesehatan Satwa Liar, cocok kan! Saya memulainya memang dari lingkup Kedokteran Hewan. Indahnya bertumbuh-lah yang membawa saya hingga di titik ini.

2 thoughts on ““Kak, kamu dulu salah jurusan ya?!””

Leave a comment