Apa yang pertama kali terpikir saat mendengar kata alone atau sendiri? Apakah hal-hal yang menyedihkan kemudian muncul dalam bayangan kalian? Apakah rasa iba dan kasihan kemudian menyeruak bagi mereka yang melakukan sesuatu sendirian?

Bagi saya kata alone, adalah sebuah hal biasa. Bila diromantisir, alone adalah padanan kemerdekaan dalam kamus saya. Sementara kemerdekaan berkolerasi langsung dengan kebahagiaan bagi pribadi saya. Maka sendiri adalah bahagia.
Self-partnered, begitu istilah yang dipopulerkan Emma Watson minggu lalu dan cukup menimbukan kehebohan di jagat Twitter. Saya mengamininya! Begitupun 5 tahun lalu saat Gwyneth Paltrow mengumumkan berpisah dengan Chris Martin dan mempopulerkan istilah “Concious Uncoupling“. Saya merasa, tak ada yang salah dengan hal tersebut baik dalam konteks berhubungan maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa bulan lalu, di Twitter dan Instagram ramai sebuah unggahan sebagaimana saya cantumkan di samping ini. Lengkap dengan sebuah caption yang cukup menggelitik: “What level are you?”

Setelah saya pikir-pikir sambil membaca meme tersebut dan merunut ke belakang, ternyata saya di level 9! Bagi saya sebuah prestasi, yang bagi sebagian orang ternyata mendulang rasa kasihan.
Berbelanja sendirian, sering sekali saya lakukan, bahkan hampir selalu. Alasannya sederhana, saya ingin apa yang saya beli benar-benar diputuskan oleh saya pribadi, dan bukan provokasi teman yang saya ajak belanja. Hal ini juga meminimalisir membeli hal tak perlu hanya karena kepingin dengan apa yang dilakukan teman.
McDonald, BK, KFC sering jadi saksi saya makan sendirian. Apa yang salah dengan makan sendiri. Mulut dan perut yang kita isi toh milik kita pribadi, bukan kolektif. Dan dengan makan sendiri, efektifitas dan efisiensi dalam ramai dan serba cepatnya gerai fastfood seakan mendukung.
Membawa sebuah buku, pergi ke cafe sepi sendirian di Sabtu pagi adalah rutinitas yang cukup sering saya lakukan. Selain bisa menikmati kopi enak, membaca buku dengan khusyuk, saya juga bisa melakukan kegiatan favorit saya; mengamati orang lain! Tentu saja, tanpa diganggu orang lain.
Suatu saat, saya pernah berjumpa dengan teman di mall, basa-basi percakapan berujung pada pertanyaan:
“Dari mana Mas?” Yang kemudian saya jawab dengan “Oh abis nonton di atas.”
Disambut lagi dengan, “Loh sama siapa? Sendirian??” Lengkap dengan tatapan kaget-ngeri-kasihan lengkap jadi satu. Saya cuma menjawab dengan santai, “Iya dong, enak nonton sendiri, apalagi kalo film serius favorit saya!”
Tampaknya pergi ke bioskop sendirian masih dianggap sebagai aib di masyarakat kita. Padahal seperti ungkapan saya tadi, saya selalu menonton film yang saya suka sendirian. Iya, sen-di-ri-an. Kalaupun terpaksa nonton bersama teman-teman, biasanya akan saya ulangi di hari lain dengan menontonnya seorang diri. Bagi saya menonton film bagus, apalagi favorit saya, bagaikan masuk ke kuil untuk bermeditasi, Lebih afdhol kalo dilakukan sendirian.
Level 5 dan 6 mungkin terkesan aneh bila dilakukan sendirian. Tapi kenyataannya, saya toh suka ke Hanamasa di Menteng Huis sendirian akhir pekan saat saya memberi reward pada diri sendiri seusai event. Sementara karaoke seorang diri baru pernah saya lakukan sekali. Ssekitar 4 tahun lalu di sebuah tempat karaoke di Yogyakarta. Ya intinya saya sedang ingin menyanyi, punya waktu lebih, dan saat itu siang-siang dimana kebanyakan orang sedang bekerja. Kenapa tidak? Toh saya malah berhasil menamatkan banyak lagu, termasuk mengulang-ulang lagu Don’t Look Back In Anger – Oasis sambil mengganti kunci nada agar suara saya pas sampai nada tinggi. Hal yang susah dilakukan saat karaoke harus mengantre dengan teman-teman kan!
Sebagai orang yang berasal dari kota pesisir, pergi ke pantai sore-sore sendirian naik motor lalu duduk menanti matahari tenggelam lazim saya lakukan. Kadang saya sengaja cari cafe/resto dan resort yang sepi untuk melanggengkan kesukaan saya tersebut. Sunset adalah hal menarik dan sakral bagi saya. Tak akan saya biarkan suara anak-anak ribut mengganggu ritual tersebut.
Pergi ke taman bermain atau tempat wisata hip-hip-hura semacamnya juga beberapa kali saya lakukan. Enaknya, kita bisa menentukan mau lama-lama di mana, naik apa dulu, atau buru-buru pulang kalau kebelet, hehe..
Level 9, mungkin sedikit saya modifikasi. Pindah rumah mungkin belum pernah saya lakukan, tapi pindah kost -yang sama-sama tempat tinggal, beberapa kali saya lakukan sendirian. Biasanya saya cicil sedikit demi sedikit barang saya. Saat tinggal di Jogja beberapa tahun lalu, saya beberapa kali melakukannya. Kadang sewa mobil pick-up bak terbuka lengkap dengan menyewa tukang untuk mengangkut barang setelah semua saya kemas rapi.
Sementara Level 10 tampaknya tidak akan saya lakukan. Kecuali dunia mau kiamat dan dipenuhi zombie. Saya akan memilih ke rumah sakit untuk ditangani dokter dan bukan melakukannya sendirian, Tapi, pergi ke rumah sakit sendirian saat sedang sakit pernah saya lakukan. Tahun lalu saya naik taxi ke RS MMC di Kuningan untuk mendapat pertolongan. Kuncinya saya menakar kesanggupan diri saya, saya tahu kapan masih dalam batas kuat untuk sendiri ke rumah sakit dan melakukannya sebelum terlambat dan terlalu lemah.
Intinya, melakukan semua sendiri bukan lantas membuat orang merasa kesepian. Do something alone tak harus selalu dikorelasikan dengan perasan kesepian. Apalagi direspon dengan rasa kasihan dan simpati. Kami-kami yang suka melakukan semuanya sendirian ini murni karena kami suka loh!
Bahkan sekarang, saat me-rating sebuah restoran di Zomato saya akan menambahkan komponen review terkait apakah resto tersebut solo-eater friendly atau tidak. Karena mereka yang makan dan walk in ke resto sendirian juga seharusnya dilayani sama baiknya dengan yang datang berdua atau dalam grup bersama.
Apakah saya membeci melakukan semua hal di atas tadi bersama orang lain? Oh tentu tidak! Menyukai sesuatu sendirian bukan berarti membenci kebersamaan. Seperti semua manusia, saya adalah mahluk sosial yang juga punya kebutuhan pribadi. Semua tergantung situasi, kondisi, dan kebutuhan.
Jadi, jangan takut sendirian, ya!
