Betapa Kita Suka Memberi Jenis Kelamin pada Benda-benda

Kemarin, BoF – situs fashion favorit saya, mengeluarkan sebuah artikel yang sangat menarik. Artikel tersebut berjudul “Is This the End of Gendered Media?” yang diikuti dengan kalimat pembuka sebagai berikut:

Is This the End of Gendered Media?
Seeing readers as demographics defined primarily by gender is no longer a sustainable business model. Appealing to readers’ shared interests and values is the future.

Pada masa ketika gender menjadi hal paling seksi dibicarakan, dan makin banyak orang melakukan pembaruan atas ‘aturan gender‘ lawas, maka artikel BoF adalah sebuah angin segar, atau lebih tepatnya tamparan! Bagaimana tidak, fashion dan media, yang katanya industri dan skena yang paling dinamis, progresif, dan demokratis serta menjunjung tinggi individuality dan freedom of expression, nyatanya juga masih menyekat-nyekat pembacanya dalam ruang gender.

Vogue hampir selalu ditahbiskan sebagai majalah fashion perempuan, GQ diusung sebagai majalah gaya hidup lelaki, dan sebagainya. Padahal pembacanya bisa siapa saja, penikmatnya bisa jadi para non-conforming gender.

Pink for girl and blue for boy??

Hal ini membawa saya pada pemikiran klasik masyarakat kita yang suka menyekat-nyekat, bahkan tanpa tedeng aling-aling membubuhkan jenis kelamin pada berbagai barang mati. Tas, sepatu, majalah, baju, yang tidak punya penis atau vagina itu tiba-tiba mendapat penis-penis baru dalam wujud ‘military boots‘, atau tetiba bervagina dengan nama ‘tote bag‘.

Saya yang memang penghobi dan pemakai tote bag, hingga detik ini di akhir 2019, masih sering mendapat pertanyaan semacam:

“Mas kenapa sih selaalu pake tote bag, kan lebih enak bag pack, lagian tote bag kan tas cewek?”

Pertanyaan semacam itu biasanya akan saya jawab dengan:

“Tahu kan, gue suka bawa banyak barang? Tau kan badan gue besar? Tau kan gue harus sering berpindah pake transportasi umum? Dan lihat kan gue punya bahu dan lengan? Dan tahu kan gue beli tas ini pake uang sendiri? Lagian lo tahu kan kalo gue pakai apapun ga akan juga nyenggol dan ngerugiin lo? Nah kalo sudah tau, maka di mana letak masalahnya pake tote bag?!”

Selama fungsi utama tas sebagai alat untuk membawa barang terakomodir, dan saya masih punya lengan dan bahu yang sehat untuk mencangklong, maka apa salahnya pakai tote bag? Tidak ada. Jangan suka membebani diri dengan berbagai aturan atau norma dalam masyarakat yang tidak berguna.

Belum lagi soal stereotyping warna. Publik sering merasa bahwa pink sebagai warna untuk perempuan dan biru sebagai warna untuk lelaki seakan-akan dicantumkan dalam kitab suci bagai firman Tuhan. Sampai-sampai mereka mematuhinya, hingga terpatri pada alam bawah sadar.


Bagi saya, kalau saya tidak mau memakai warna pink, hanyalah karena saya kadang menganggap warna tersebut jelek di kulit saya, atau saya harus ekstra usaha untuk memadu-padankannya dengan pakaian lainnya. Tak pernah saya menggunakan alasan karena pink adalah warna perempuan sedangkan saya memiliki penis! Ingat, saya tidak selemah itu untuk takut dengan warna.

Bila memang dibutuhkan, saya pun akan pakai sepatu berhak. Bila suka, saya bebas saja mau pakai kaos warna pink, bila memerlukan saya pun akan merawat diri menggunakan skin care. Tidak perlu barang-barang dalam keseharian kita dilabeli jenis kelamin!

Beberapa minggu ini, saya sering uring-uringan tiap ke toko sepatu atau membuka website butik sneakers langganan saya. Apa pasal? Tiap ada jenis sepatu baru keluar, colorway yang saya suka, atau style yang saya suka, kalo bukan hanya tersedia sampai ukuran 40 – ukuran wanita, ya malah hanya tersedia di ukuran 26, 27. 28, ukuran anak-anak, sementara ukuran saya 45.

Pola pikir masyarakat yang sayangnya didukung dengan bagaimana industri merespon, soal meletakkan jenis kelamin dalam barang komoditas ini, sungguh membuat saya jengah. Sudah saatnya kita membebaskan diri dengan tidak lagi hobi menempatkan penis dan vagina sebagai atribut sebuah benda. Namun, mulai menghargai siapapun, tanpa melihat apakah dia punya, atau lebih suka dianggap, mempunya penis atau vagina.

Leave a comment