Tentang Privilege

Presiden Jokowi mengumumkan sederet nama Staf Khusus yang akan membantunya di periode 2019-2024, tujuh dari belasan nama yang diumumkan adalah anak muda. Bahkan ada yang masih belia, 23 tahun! Saya pribadi sih senang! Karena saya percaya anak muda seharusnya membawa perubahan. Bahwa anak muda lebih mungkin punya ide yang kreatif dan inovatif, terlebih lagi cara pandang mereka terhadap masalah pasti akan menarik.

Beberapa dari mereka juga saya tau telah “menghasilkan” perubahan yang baik. Seperti Belvin dengan RuangGuru, Ayu Kartika dengan SabangMerauke, Angkie dengan ThisAble, dan Billy dengan environmental activism-nya.

Tapi ternyata, pengangkatan anak-anak muda ini ternyata menuai badai di Twitter. Beberapa oranng menganggap mereka diangkat karena memiliki privilege tertentu. Beberapa mengungkit kenyataan bahwa mereka adalah anak orang sukses yang memiliki kuasa dan pengaruh. Beberapa lainnya terus membandingkan, seringkali dengan diri mereka sendiri, privilege yang tak mereka miliki. Hingga mereka menganggap, semua kesuksesan anak-anak muda tersebut hanya karena privilege tanpa disertai usaha sendiri. Sementara sebagian warganet, lebih jauh lagi, berasumsi bahwa mereka tidak akan berhasil membawa perubahan karena mekera tidak mampu memetakan masalah yang tidak pernah mereka hadapi. Semua karena satu hal, privilege yang bahkan mereka sendiri tak bisa memilih.

Apa sih privilege?

priv·i·lege/ˈpriv(ə)lij/

noun

a special right, advantage, or immunity granted or available only to a particular person or group.

Dua kata paling penting dalam arti privilege di atas, bagi saya adalah special right (hak khusus) dan advantage (keuntungan). Dua hal di atas memang menjadi lebih saat seseorang lahir dari keluarga kaya, berkuasa, berjaringan luas. Artinya akses untuk mendapatkan apapun, termasuk gizi, pendidikan, teman dan kolega, serta uang menjadi lebih mudah.

Tapi bagi saya privilege lebih seperti modal. Coba hitung, ada berapa cerita beredar tentang anak orang kaya yang malah membangkrutkan usaha pendahulunya? Banyak. Maka privilege adalah modal dan keuntungan karena bisa memulai dan mendapatkan lebih awal, dan tak hanya itu, tapi juga yang terbaik, atau setidaknya lebih baik.

Saya pun percaya semua orang memiliki privilege-nya masing-masing. Tak percaya? Mari kita mulai dari saya, saya akan ceritakan apa privilege saya. Saya bukan anak orang kaya, Bapak dan Ibu saya adalah seorang PNS dengan gaji cukup. Tapi saya punya privilege lain.

  1. Saya tinggal di Jawa. Buat saya ini adalah privilege, dibanding dengan mereka yang tinggal di luar Jawa, saya lebih mudah mendapatkan akses pendidikan, akses informasi, bahkan akses listrik dan kesehatan! Ini membuat saya tumbuh dengan baik berkecukupan. Kehausan saya akan informasi dan pengetahuan pun tercukupi dengan baik. Koran langganan tiap hari bisa saya baca, beberapa bulan sekali orang taua membebaskan saya memilih buku untuk dibeli di toko buku, dan televisi bisa saya nikmati walaupun hanya sebatas sore hari dengan layar tabung ukuran 14 inchi.
  2. Saya tinggal di kota kecil. Bagi orang lain mungkin ini justru bukan privilege. Tinggal di kota besar mungkiun yang disangka sebagian besar orang sebagai privilege. Tapi tidak bagi saya. Kenyataan bahwa saya tinggal dan besar di kota kecil membuat saya lebih banyak kenal teman. Saat berpindah dari Sd ke SMp maupun SMP ke SMA, saya tidak takut karena pasti ada sebagian yang saya kenal. Begitupun dengan prestasi akademis. Kota kecil memungkinkan saya masuk sekolah favorit di kota itu yang memang cuma hanya memiliki sedikit pilihan sekolah. Di sana saya bisa jadi bintang kelas. Dan hal itu membuat saya sangat percaya diri untuk menjadi lebih sukses.
  3. Pernah tinggal di kota kecil dan sekarang tinggal di kota besar membuat saya lebih komprehensif menganalisis berbagai hal. Setidaknya saya bisa menyandingkan tentang variabel-variabel yang ada di kota besar dan kota kecil.
  4. Lahir dalam keluarga pas-pasan juga saya anggap sebagai privilege. Ini yang membentuk saya sekarang. Saya jadi punya keinginan untuk menjadi lebih baik, mempunyai mimpi lebih tinggi, dan lain sebagainya.
  5. Saya bersuku Jawa dan terlahir sebagai laki-laki

Privilege saya “sepele” kan. Banyak hal yang mungkin dianggap orang lain bukan sebagai privilege, tapi bagi saya ini termasuk di dalamnya. Privilege kadang sangat relatif, bahkan subjektif.

Pada intinya, saya memandang kegaduhan badai Twitter mengenai permasalahan privilege ini justru konta-produktif. Kalau memang mereka yang menduduki jabatan-jabatan menarik tersebut berasal dari privileged person, mereka pun tidak memilih lahir dalam keadaan begitu kan. Selain itu semua usaha untuk mereka menjadi seperti sekarang, seperti halnya usaha-usaha kita (iya, saya dan kamu) patut dihargai. Dan yang terakhir, bukankah lebih akan progresif kalau memang mereka kita sokong dengan berbagai masukan tentang hal-hal yang mungkin mereka tidak tahu.

Saya jadi ingin bertanya;

Apa privilege kamu?

2 thoughts on “Tentang Privilege”

  1. Kalau definisinya seperti itu, kurang lebih privilegeku hampir sama dengan njenengan. Tapi saya perlu mikir untuk mencerna substansinya. Jadi ada PR buat saya.

    Terima kasih sudah berbagi.

    Like

Leave a comment