LASEM: Cantiknya Tiongkok Kecil di Pesisir Utara Jawa #1

Dua tahun terakhir, nama Lasem, sebuah kecamatan kecil di Kabupaten Rembang dekat perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur ini menjadi tenar. Yang selama ini tak pernah dilirik dan hanya menjadi perlintasan kendaraan yang lalu-lalang sepanjang Pantura, kembali menemukan tempatnya di mata umum.

Lasem memiliki sejarah panjang. Sejak dulu daerah ini adalah pusat perdagangan, dan bandar yang ramai di era kerajaan-kerajaan yang menguasai Jawa. Tercatat, Lasem merupakan sebuah vazhal yang menginduk pada Kemaharajaan Majapahit. Penguasanya bergelar Bhre Lasem, dan seringkali adalah penguasa perempuan yang tangguh.

Saat masa kolonial, Lasem adalah tempat menetapnya orang Tiongkok, terutama karena insiden besar Geger Pecinan atau sering disebut Perang Kuning. Ribuan orang lari dari Batavia dan sekitarnya akibat kerusuhan dan perang lalu menetap di kota pesisir ini. Sementara para pendatang dari Tiongkok daratan umumnya suku Hokkian. Itulah yang menyebabkan peninggalan pecinan Lasem sangat kaya dan untungnya terawetkan dengan cukup baik.

Sekira tiga tahun lalu, sekelompok anak muda mulai membuat sebuah gerakan dn membagikan keindahan Lasem di sosial media, tagar menarik #KesengsemLasem yang menyertai foto dan cerita kemudian turut memikat masyarakat Indonesia, khususnya para pejalan dan penikmat sejarah. Sejak itu Lasem kembali bersolek. Pesonanya makin terasah dan semoga dapat tetap mengawetkan tradisi dan merawat bangunn-bangunannya.

Akhirnya saya berkesempatan ke Lasem, untuk benar-benar menikmati keindahan pecinannya, sejarah serta budayanya. Walaupun saya memiliki saudara yang tinggal di Lasem, beberapa kali berkunjung bahkan menginap, tapi selalu kebingungan untuk mulai mengeksplorasinya.

Liburan akhir tahun lalu atas saran dari seorang teman, saya mengontak seorang guide lokal, namanya Mas Dayat. Setelah serangkaian obrolan melalui WhatsApp dan berkonsultasi, saya kemudian dibuatkan usulan itinerary dan menyetujui paket yang diajukan. Saya tak punya banyak waktu, hanya seharian penuh. Namun guide ini mampu mengkompres 9 kunjungan termasuk mengunjungi kelenteng, rumah-rumah kuno, makan makanan lokal dan melihat proses serta berbelanja batik.

Banyak tempat menarik di lasem belum dikelola secara komersial, Seringkali tak ada tiket masuk. Tak ada papan informasi. Untuk itu peran guide lokal sangat vital, Mereka lah yang akan mengaturkan kunjungan. Mengontak para pemilik rumah tua untuk ijin mengunjungi rumah-rumah beratap ekor walet dan berlantai dak kayu khas Hakka itu. Mereka juga yang menghubungi pengurus klenteng dan mengaturkan donasinya. Termasuk saat ingin melihat rumah kuno bekas penjualan candu dengan lorong bawah tanah yang masih berstatus properti pribadi.

Lasem memang mulai bersolek, tak susah bila ingin menghabiskan akhir pekan di sana. Banyak keturunan pemilik rumah tua mengkonservasi bangunannya dengan baik dan mengubahnya menjadi homestay, hotel atau restoran dan kedai kopi. Harga pun masih sangat terjangkau. Sebuah kamar dengan kamar mandi dalam dan tempat tidur ukuran queen dibanderol dengan harga 350-450.000 rupiah per malam. Sementara untuk makan besar dengan aneka lauk hidangan laut untuk berlima, total tak sampai 300.000 rupiah saja.

Hanya masalah transportasi yang mungkin masih jadi kendala sebagian pejalan. Walaupun saat mengkontak guide dapat diaturkan penjemputan dari Bandara Internasional Ahmad Yani atau Stasiun Kereta Api Tawang Semarang, namun agaknya bagi pejalan tunggal yang memilih opsi angkutan umum harus mau berepot-repot. Berpindah moda menuju terminal bus dan kemudian menaiki bus tujuan Surabaya untuk turun di Lasem. Setelah sampai Lasem, pilihan bijaknya adalah menyewa mobil atau menggunakan ojek online. Terutama bila area yang dijangkau termasuk primadona Trembesi raksasa dan area pantai. Bila hanya pecinan saja, becak bisa menjadi opsi yang menarik.

Selain pecinan tuanya yang indah, tujuan orang ke Lasem seringkali adaah batik. Dulu kota kecil ini memegang peranan sangat penting. Menjadi satu dari sekian rangkaian produksi batik Tiga Negeri. Sesuai namanya, batik ini dulunya dikerjakan di tiga wilayah. Kain yang telah digambar motif dan diberi warna dasar di Lasem, kemudian di-estafet-kan pengerjaannya ke Pekalongan, lalu Kemudian ke Surakarta. proses berlanjut dari memberi motif, memberi malam, hingga mewarnai dan memberi ornamentasi. Sekian bulan kemudian, jadilah kain batik Tiga Negeri yang sohor itu.

Batik di Lasem hampir semuanya tulis tangan. Mulai dari yang sangat sederhana motifnya dengan hanya satu warna dan warna dasar, hingga yang sangat rumit dengan teknik serit yang membutuhkan canting khusus, ketelatenan dan ketelitiian pengrajin. Begitupun pengguanaan lebih dari lima warna dengan konsekuensi ditembok dan dilorot malamnya lebih dari lima kali. Bila ingin berbelanja, Lasem cukup akomodatif. Batik tulis yang paling murah saya dapati 220.000 rupiah saja, sementara batik mahal yang saya taksir dan sempat menanyakan ke pengrajin, dibanderol dengan harga 6.750.000 rupiah.

Selain sejarah dan bangunan kunonya, Lasem juga menarik karena keberagaman dan toleransinya. Pesantren di area pecinan, Masjid yang tak jauh dari klenteng. Makanan dan bahasa yang berakulturasi saling mempengaruhi. Unik, saat mengetahui bakwan atau bala-bala di sana disebut hechi, dan rempeyek atau peyek disebut tumpi. Masih kental sekali pengaruh tiongkoknya. Wajib mencoba Lontong Tuyuhan yang sohor itu, Bandeng Merico, Pecel Urang, serta Es Kawis.

Saya akan sedikit pamer kunjungan sehari saya ke Lasem pada tulisan-tulisan dan unggahan berikutnya. Berikut daftar tempat yang saya kunjungi:

  1. Rumah Oey
  2. Rumah Tegel LZ – Lie Thiam Kwie
  3. Trembesi Raksasa dan Workshop Batik Pusaka Beruang
  4. Klenteng Cu An Kiong
  5. Lawang Ombo – Rumah Candu
  6. Rumah Makan Hokkie
  7. Batik Lumintu
  8. Rumah Merah
  9. Situs Perahu Kuno Punjulharjo

Selamat menikmati, selamat kesengsem, dan selamat untuk tak sabar merancang perjalanan ke Lasem!

2 thoughts on “LASEM: Cantiknya Tiongkok Kecil di Pesisir Utara Jawa #1”

  1. Salam kenal mas, kebetulan kok pas liat tulisan anda. Saya sendiri sejak kecil biasa ke Lasem dari Surabaya (kami tinggal di Surabaya) karna nenek dari bapak tinggal disana, tapi waktu itu ya karna masih kecil ngga banyak perhatikan kotanya. Setelah nenek meninggal, kami ya udah ngga kesana lagi. Liat postnya mas ini kok menarik sekali untuk kembali kesana. Moga2 kesampaian setelah corona berakhir. Terimakasih lagi mas

    Like

    1. Wah terima kasih sudah membaca ya. Saya juga berniat kembali ke sana (seharusnya) Agustus, tapi apa daya sedang tidak mungkin traveling. Banyak yang belum sempat saya kunjungi soalnya hehe. Semoga bs segera menikmati dan kesengsem Lasem lagi ya 🙂

      Like

Leave a reply to juristhegreat Cancel reply