Sore 28 Mei 2006, sehari setelah gempa hebat itu, saya kembali ke kampus untuk bertemu tema-teman pengurus BEM dan IMAKAHI (lembaga ikatan mahasiswa). Pengalaman saya menjadi relawan dadakan di Bantul yang hanya semalam, memberi saya banyak sekali pengalaman dan membuka banyak pemikiran.
Setelah saling bertukar kabar, kami sepakat untuk membentuk Veterinari Reaksi Cepat (VRC) sebuah aksi untuk merespon bencana gempa yang namanya terinspirasi dari sticker pada sebuah mobil bantuan dari merek obat sakit kepala, “Bodrex Reaksi Cepat”. Kabar segera kami sebar pada teman-teman dan dosen pembina. Semuanya merestui. Kemudian kami lanjut atur strategi.
Dekan kami saat itu, seorang profesor yang terkenal galak dan tegas, mendukung apa yang kami lakukan. Beliau wanti-wanti berpesan untuk tidak turun ke jalan mencari sumbangan. Menurutnya, mahasiswa harus punya cara lebih baik, lebih cerdas. Kami lalu mendiskusikan cara-cara, yang tidak hanya lebih cerdas dan elegan, tapi juga jauh lebih efektif. Melalui jejaring alumni dan kemahasiswaan.
Sebuah memo mengantarkan kami untuk berkoordinasi dengan kepala bagian kemahasiswaan dan alumni kampus. Beberapa waktu kemudian, kabar telah disebar. Kami siap menerima bantuan untuk kemudian mendistribusikannya, Tak lupa kami mengabari anggoka ikatan mahasiswa di kota-kota lain untuk mencari dan menggalang bantuan.
Pendopo kampus kami jadikan markas. Meja kecil yang kami angkut dari kost seorang teman kini berfungsi sebagai front office. Di sanalah kami menerima bantuan dan mengumpulkan informasi tentang kebutuhan serta proses penyaluran.
Saya ingat, rencana kami berjalan mulus. Bantuan mulai berdatangan. Mulai dari aneka makanan siap santap, mie instant, pakaian bekas, buku, hingga uang tunai. Teman-teman kami, yang kebanyakan anak kost perantau di Jogja, turut berkeliling di sekitar Bantul dan Klaten untuk encari informasi tentang kondisi pengungsi dan permintaan logistik yang dibutuhkan. Semuanya kami catat rapi dalam papan tulis kecil yang kami angkut dari ruang BEM dan kami bukukan dalam log book kasuari.
Ada beberapa pengalaman tak terlupakan dalam menjalankan Veterinari Reaksi Cepat ini. Saya ingin berbagi tentang hal-hal dan cerita-cerita menarik yang akan saya kenang sampai mati nanti.
Menerima Satu Mobil Box Berisi Bantuan Telur Rebus dan Ketupat
Saat kami dikabari oleh seorang pengurus asosiasi peternak ayam petelur di sebuah kota melalui SMS, kami tak menduga bahwa apa yang akan kami terima akan sangat spesial. Bantuan itu datang pagi hari dalam mobil box. Isinya telur rebus dalam bok kayu bertumpuk-tumpuk. Jumlahnya mungkin ratusan butir kalau tidak ribuan. Beserta telur-telur itu bergunung-gunung ketupat matang siap santap ikut dikirimkan.
Antara senang dan agak bingung karena harus pintar putar otak, kami kemudian berembuk. Di posko kami yang tak seberapa itu juga ada cukup banyak kardus mie instan dan aneka biskuit serta pakaian bekas. Kami kemudian membaginya dalam 3 kelompok berisi campuran logistik di atas.
Dengan data yang kami himpun, akhirnya kami putuskan mengirim bantuan tersebut ke 3 wilayah yang agak berjauhan. Masing-masing dengan mobil pick up bak terbuka.
Bersama seorang supir yang diperbantukan oleh pihak fakultas, saya berangkat dalam salah satu rombongan. Kami berdua, bertiga dengan supir. Sementara beberapa teman, menggunakan motor untuk ikut kami.
Dicegat Saat Mendistribusikan Bantuan
Dalam perjalanan kami tiba di sebuah desa yang harus melewati persawahan. Ada jembatan kecil di sana, namun pembatas jembatan rubuh dan kami harus mencek apakah jembatan masih aman dilalui oleh mobil. Di situlah kejadian yang mendewasakan saya ini terjadi.
Kami didatangi sekelompok warga sekitar. Dengan gusar dan nada tinggi mereka memaksa kami menurunkan bantuan. Karena merasa bahwa ini amanah dan kami sudah janji akan mengantarkan ke tujuan, kami menolak menurunkan bantuan. Dengan baik-baik meminta maaf serta menjelaskan bahwa bantuan ini untu desa yang kami tuju. Mereka marah! Sebagian membawa pisau dan sabit sambil mengumpat-ngumpat. Saya dan teman kaget bukang kepalang. Kami takut! Nyawa bisa saja melayang, atau minimal luka bisa saja timbul.
Supir kami mencoba menengahi dan menjelaskan baik-baik. Dalam teriakannya, salah seorang warga berujar bahwa mereka juga lapar, mereka juga korban, mereka marah. Sampai hari ketiga belum ada bantuan ke desa mereka, sementara desa terparah yang saat itu jadi tujuan kami tampaknya juga disasar banyak dermawan. Mobil-mobil bantuan hilir mudik ke sana, membuat desa dengan jembatan rusak ini hanya jadi tempat numpang lewat.
Saya jadi paham kenapa mereka sangat marah dan (mungkin) iri. Dalam keadaan sedih, kalut, dan lapar, orang memang bisa gelap mata. Setelah berunding dengan teman, kami ijinkan mereka mengambil bantuan, terutama biskuit berkaleng-kaleng dan mie instan berkardus-kardus. Sementara telur rebus dan ketupat kami minta tidak diambil terlalu banyak karena toh percuma bila tidak segera dimakan akan basi.
Saya (akhirnya) Menangis di Tempat Laundry Kiloan
Hari kesekian menjadi relawan membuat saya kehabisan pakaian bersih. Hari itu saya akhirnya memunguti pakaian-pakaian di pojok lantai kamar saya. Termasuk pakaian yang saya pake di rumah sakit lapangan Bantul hari pertama gempa.
Setelah menjejalkannya dalam kantung plastik bekas, saya menaiki motor ke Jalan Kaliurang. Tempat laundry kiloan buka bersebelahan dengan rumah makan padang yang rasanya tak otentik tapi menawarkan harga super murah dan porsi super banyak. Saya mampir makan di sana. Dalam rumah makan ada beberapa orang berseragam yang tampaknya bagian dari penanganan bencana.
Kenyang menyantap nasi padang, saya membawa buntalan plastik pakian kotor tadi ke laundry sebelah. Setelah ditimbang dan diperiksa, kemudian dengan basa-basi pegawainya yang seorang perempuan bertanya kenapa baju saya bisa kotor sekali, bahkan sebagian berlumpur. Dengan malu saya jawab sambil menjelaskan bahwa itu semua karena saya menjadi relawan di rumah sakit lapangan yang didirikan PMI di Bantul. Respon yang saya terima di luar dugaan.
Pegawai itu tiba-tiba merangkul dua tangan saya, sambil berkali-kali mengucap terima kasih. Sedetik kemudian dia menangis. Ternyata di adalah korban, sebagaian besar keluarganya luka parah dan ada yang meninggal. Desanya berantakan. Saya yang tidak menduga akan hal ini, hanya bisa melongo dan tercekat. Lama rasanya sampai saya bisa membalas terima kasih. Lalu dia membalas dengan kata-kata yang tidak akan pernah saya lupakan:
“Mas matur nuwun nggih, nitip salam buat konco-koncone. Matur nuwun sampun bantu keluarga saya. Tolong kabari temennya, laundry gratis kalo butuh nyuci klambi. Mesti ga sempet nyuci to…”
Di parkiran tepi jalan itu, saya menangis sejadi-jadinya. Saya memang susah menangis karena sedih. Lebih sering karena marah. Tapi kali ini saya menangis karena dada saya sesak tapi hangat oleh respon pegawai tadi. banyak korban yang timbul, tapi beberapa tetap berdiri menjadi orang baik walaupun keadaan begitu pahit. Dan hal kecil yang saya lakukan tenyata ada manfaatnya.
Jauh-jauh Belanja Sampai Magelang dan Salah Membeli Pembalut Wanita
Sudah hampir seminggu sejak gempa. Gempa kecil masih saja bermunculan. Kata orang, bumi sedang menyesuaikan. Relawan pun menyesuaikan dengan keadaan. Kami mulai mengumumkan untuk lebih memilih bantuan non pangan. Alasannya, sudah banyak sekali bantuan pangan datang. Beberapa malah menumpuk, saya dapati ada yang busuk dan kadaluarsa.
Uang yang masuk ke rekening kami cukup banyak. Saya menelpon seorang teman yang ada di Bantul dan seorang lagi di Klaten untuk menanyakan apa kebutuhannya. Jawabannya adalah pembalut wanita, makanan bayi dan minyak tanah untuk memasak darurat.
Setelah mengecek ke pasar terdekat yang ternyata banyak sekali barang kosong dan bila masih pun harganya menjulang tinggi melebihi musim lebaran. Dengan mobil seorang teman kami akhirnya belanja ke luar kota. Tujuan mobil kami adalah Magelang. Ada pasar besar di Muntilan. Kami membawa jerigen-jerigen kosong dalam bagasi mobil dan pagi-pagi sekali sudah meluncur ke sana.
Minyak tanah berhasil kami beli walopun hanya sebagain jerigen yang terisi karena persediaan dipasar tidak banyak. Makanan bayi seperti bubur instan sukses kami borong. lalu tibalah pada kecanggungan harus membeli pembalut wanita. Kami semua yang ke Magelang saat itu kebetulan lelaki keempatnya.
Dengan sok tau saya asal menunjuk sebuah kotak yang saya yakini pembalut bagus karena pernah melihat iklannya dan menanyakan harga. Saya beralih ke jenis lain, dan harganya lebih murah. Pikir saya, makin dapat banyak makin baik. Saya pun membelinya dalam jumlah banyak. Saya lupa tepatnya berapa, yang jelas lebih dari 300 kemasan.
Bergegas kami kembali ke Jogja saat semua sudah dibeli. Dan langsung menuju Bantul tempat pos pengungsi di sana untuk menyerahkan bantuan ke seorang teman yang berjaga di sana bersama PMI.
Setelah menurunkan jerigen-jerigen minyak tanah yang membuat kami harus membuka jendela mobil sepanjang jalan. Tibalah untuk memindahkan kardus-kardus berisi pembalut wanita tersebut. Para relawan perempuan kemudian membuka dengan maksud untuk menghitung dan membaginya untuk didistribusikan.
Dan kemudian, seseorang perempuan menyeletuk, “Loh ini pantyliner bukan pembalut!”
Berikutnya satu posko tertawa terbahak-bahak. Relawan yang belanja ternyata tak paham apa bedanya pembalut dan pantyliner. Edukasi seks memang rendah sekali ya. Sampai-sampai lelaki tak tahu kebutuhan rutin bulanan wanita semacam ini.
Dengan perasaan bersalah dan tidak enak saya dekati salah seorang teman perempuan. “Trus masih bisa dipake ga ya? Udah terlanjur beli banyak tadi. Piye iki?”
Teman saya malah tertawa. Katanya tak usah khawatir, di masa bencana seperti sekaang, pantyiner juga pasti berguna. Kalo darurat tinggal ditumpuk dan dirangkap, katanya. Saya jadi lega sekaligus merasa konyol!
Pengungsi dan Korban Benca juga Manusia, Ada yang Baik dan Pasti ada yang Jahat
Saya sempat mampir mengunjungi teman saya yang bertugas di sebuah rumah sakit darurat di Klaten. Rumah sakit itu didirikan atas bantuan Pemerintah Kuba. Iya betul, negara yang selama ini kita anggap sangat kiri dan misterius itu.
Lebih dari setahun kemudian, saya baru tau bahwa Kuba ternyata negara yang luar biasa, terutama bila membahas masalah kesehatan, dokter, dan sistem jaminan mereka. Semuanya saya ketahui dari sebuah film dokumenter berjudul Sicko karya Michael Moore yang dirilis pada 2007.
Tapi saya tidak mau cerita tentang kehebatan dokternya. Saya ingin cerita tentang pengungsi, orang-orang yamnjadi korban ini adalah manusia biasa, lengkap dengan sifat baik dan buruk. Sifak baiknya tentu saja kerelaan mereka untuk saling membantu padahal mereka sendiri adalah korban. Juga yang sangat penting adalah semngatnya untuk bangkit dan tidak mau terus dikasihani.
Tapi saya juga melihat sisi gelap manusia. Dalam keadaan nelangsa seperti bencana, kadang sifat-sifat buruk manusia akan makin nampak. Seperti kehebohan di rumah sakit darurat sore itu.
Para dokter dan relawan medis dibuat terkejut dan marah saat seorng dokter berkewarganegaraan Kuba melaporkan hilangnya barang-barang pribadinya, termasuk dompet berisi uang dan beberapa barang lain. Salah seorang teman menyeletuk dengan nada gemas, “Woooh ditulung malah menthung!” Ditolong kok malah menyakiti penolongnya. Tapi ya begitulah manusia, banyak yang baik, tak sedikit juga yang jahat.
Kepuasan dari Prinsip Selflessness
Keikutsertaan saya dalam proses tanggap bencana gempa bumi, baik yang tanpa disengaja di rumah sakit lapangan Bantul, maupun bersama-teman-teman mendirikan VRC telah membuka mata saya. Bahwa kepuasan juga bisa didapat dari membantu sesama melalui kerelawanan.
Saya yang dari kota kecil Jepara dan belum genap dua tahun tinggal di Jogja merasa bersyukur bisa mendapatkan pengalaman ini. Seumur hidup saya sebelum gempa, tidak pernah terpikirkan untuk bergabung sebagai relawan atau ikut dalam organisasi non-profit. Tapi sekarang, 14 tahun setelah kejadian itu, saya justru nyemplung sepenuhnya dalam dunia NGO.
Saya ingat saat hampir sepekan saya masih di Jogja seusai gempa, almarhum Bapak saya menelpon. “Ga pengen balik Mas? Kesel ora? Nek kesel istirahat dhisik. Besok Bapak jemput sekalian ngirim bantuan ning Klaten.”
Di kala orang tua teman-teman saya panik dan meminta anaknya cepat-cepat meninggalkan Jogja segera seusai gempa, Bapak dan Ibu saya justru memberi saya waktu untuk jadi relawan. Mereka juga membantu mengumpukna bantuan. Karena kebetulan rumah nenek saya di Klaten juga ikut retak, rusak ringan, akibat gempa dan sebagian tetangganya ada yang menjadi korban, maka orang tua saya membuat paket sembako untuk dibagikan di Klaten.
Saya iyakan tawaran Bapak. Keesokan harinya saya pamit dari posko dan naik motor ke Klaten, rumah nenek saya, Saya ikut orang tua untuk mengecek sanak-saudara, hingga ke Gantiwarno dan Bayat. daerah-daerah yang paling parah, dengan rumah-rumah tua dari batu karang minim semen yang mudah sekali roboh. Beberapa keluarga jauh kami masuk rumah sakit, rumahnya rusak atau rubuh, dan beberapa meninggal dunia.
Beberapa hari kemudian saya sudah di Jepara untuk istirahat. Kampus memberi pengumuman untuk menunda ujian sampai pemberitahuan lebih lanjut. Siang itu saya tiba-tiba terbangun dari tidur siang dan berteriak “Gempa!” Tenyata container truck pengangkut mebel lewat dan membuat jalanan bergoyang.
Kata saudara, saya trauma pasca bencana. Tapi pengalaman untuk ikut terlibat dalam proses tanggap bencana ini jauh lebih berarti bagi saya. Selamanya akan saya ingat sebagai salah satu kejadian yang mendewasakan saya.

Masya Allah. Tuhan membalas kebaikanmu, Kak. Kebetulan saya juga warga Bantul, tapi waktu gempa saya masih kecil. Hehe..
LikeLike
Terima kasih ya. Saya banyak belajar dari kejadian di Bantul dan Klaten.
LikeLiked by 1 person
Sangat menginspirasi!! Semoga selalu di beri kesehatan dan rejeki yang cukup, tidak lupa untuk selalu menjadi orang baik!!
LikeLike
terima kasih ya… amien
LikeLike